Penyetaraan Ijazah Luar Negeri oleh DIKTI terkesan aneh

Setiap mahasiswa yang sedang belajar di luar negeri, khususnya negera persemakmuran Inggris (Malaysia, Australia, dll), yang menganut sistem pendidikan Inggris, biasanya selalu dihadapkan dengan permasalahan dan ketakutan bahwa pendidikan S1 yang mereka ambil hanya akan dianggap D3 oleh DIKTI. Itu memang nyata, dan sudah terbukti sampai sekarang ini. Semua lulusan yang bergelar Bachelor walaupun ada embel-embel WITH HONOURS sebagian akan disetrakan sebagai D3, tetapi ada juga yang disetarakan S1.

Itu menjadi pertanyaan saya, setelah saya melihat-lihat di website http://evaluasi.or.id yang tertera untuk universitas saya, Universiti Utara Malaysia, dengan program yang sama dan gelar yang didapatkan sama, Bachelor Information Technology with Honours, dua orang SHERLIA ARLIATY dan MUHARMAN LUBIS, bisa mendapatkan penyetaraan yang berbeda.

Kasus ini membuat saya penasaran dan saya mengangkatnya dan menulisnya di Guest Book http://evaluasi.or.id yang juga ditanggapi oleh beberapa teman dari Monash University Melbourne. Berikut tulisannya.

Pengirim: Doli Anggia Harahap
Medan( 11 Maret 2009, 02:08:13)
Pesan / Komentar:
Assalamualaikum Bapak/Ibu,

Saya ingin bertanya mengenai penyetaraan ijazah untuk tamatan luar negeri. Saya tamatan dari Malaysia dan ingin menyetarakan ijazah.
Beberapa waktu lalu teman saya satu angkatan menyetarakan ijazahnya dan hanya mendapatkan penyetaraan setaraf D3 oleh DIKTI dengan gelar yang dia sandadang adalah Bachelor of Information Technology wih Honours, begitu juga saya.
Adapun senior kami beberapa tahun lalu, dengan lulusan universitas Malaysia yang sama, jurusan yang sama dengan gelar yang sama mendapatkan penyetaraan setaraf S1 oleh
Yang ingin saya tanyakan, sebenarnya apa standar perhitungan untuk membedakan S1 dengan D3 untuk lulusan dari Malaysia?Saya ingin menyetarakan ijazah saya untuk setaraf S1. Karena arahan dari pihak Kedutaan melalui Atase Pendidikan disana, seharusnya taraf pendidikan yang kami sandang adalah SAMA dengan S1 di Indonesia.
Adakah penjelasan untuk ini? Terima Kasih atas perhatiannya.


Tanggapan:Thio
Medan( 13 Maret 2009, 14:52:52)
Embok Gia gimana ini? kalau tak salah pertanyaan ini sudah pernah dimunculkan pada tgl 5 Maret tapi tak dapat tanggapan dari Dikti.Sebenarnya yang menjadi standar untuk membedakan S1 dan D3 luar negeri sih gampang, termasuk akreditasi ( recognition of International )University tersebut, system perkuliahnnya, jumlah SKS yang diambil untuk gelar itu, program dan mata kuliah apa sesuai dengan gelar itu dsb. Aneh dalam praktek penyetaraan Dikti kita memberi kesan asal2an, sorry saya jadi buruk sangka apakah sebenarnya anak buah unqualify yang bekerja, kepala team yang profesional karena kesibukan hanya teken aja. Bayangkan berasal dari Uni dan Jurusan yang sama, sementara yang graduated with honours disetarakan dengan D3, yang biasa2 aja justru berezeki dapat disetarakan dengan S1. That means the world maybe crazy especially in our Ditjen Dikti Jakarta. Teringat saya nenekku pernah cerita dizaman beliau Ba itu artinya SARJANA MUDA yaitu D3 kita. Apakah Dikti punya pegawai setua nenekku? kok belum pensiun ya? nenekku sudah berusia 80 tahun dan giginya sudah ompong semua! kalau ya Dikti terima pegawai super tua, nenekku ingin lamar! berikan beliau kesempatan melamar donk! Bapak/Ibu Dikti yang murah hati, dari pada nenekku tiap hari kerjanya ngelamun ngeluh gak bisa lewat waktu, too much waktu nganggur tak baik buat kesehatan nenekku. Biarlah beliau sana bantu setarakan ijazah luar negeri, kan tak sulit, nampak Bachelor langsung cap D3 aja. Saran saya Gia sebaiknya sering muncul di kolom komentar ini, repeat2 same question juga no problem. Supaya salah satu staff yang tugasnya menyetarakan ijazah Gia able to keep your name in mind,kelak begitu nampak langsung disetarakan dengan S1, pepatah mengatakan gak kenal maka gak sayang, right? kalaupun ternyata kesialan disetarakan dengan D3, don’t be sad, you are not the first, itu sudah sering kejadian. Langsung aja ambil Master ke luar negeri,program Master overseas 1 1/2 thn sudah bisa selesai. Kalau terhadap Master Degree, Ditjen Dikti tak pernah stingy, asal University itu terakreditasi International, langsung diproses dan terbitlah SK yang setarakan Master anda dengan S2 sini.Solusi Ini yang sering dipakai Bachelor luar negeri yang kebetulan sial disetarakan dengan D3. Kebanyakan mereka pikir mau complain ke mana? habis tenaga berteriak mengatakan ini unfair pun tak mungkin terdengar Bapak Dirjen Dikti kita. Atau kalau gak mau lanjut ke Master, apply aja ke perusahaan swasta yang tak bermasalahkan Bachelor dengan S1, bagi swasta sama aja degree ini, cuma tak bisa ke Government Jobs termasuk BUMN/BUMD, karena mereka akan minta lampirkan SK Dikti tentang kesetaraan ijazah luar negeri. Antara S1 dan D3 pangkatnya sungguh jauh, kita ini sangat dirugikan kalau apply job ke Government field bila disetarakan dengan D3. Good luck to you, Wasalam dari Thio di Medan.


Tanggapan:Dinul
Medan( 13 Maret 2009, 20:48:21)
Walaikum Salam, Gia dan Thio di Medan, saya Dinul juga dari Medan. Tertarik untuk ikut diskusi topik yang kalian bicarakan. Sebenarnya standar yang paling gampang untuk membedakan degree Bachelor luar negeri itu setara D3 atau S1 Indonesia bisa dengan cara:
( 1 ) Berapa SKS yang diperoleh untuk mencapai degree itu? karena SKS (total credit) harus setara dengan sarjana sini, kalau tak salah 144 SKS. kalau kurang dari itu bisa aja disetarakan dengan D3.
( 2 ) Coba check ke salah satu Overseas University yang terakreditasi International, apakah Bachelor ini bisa terus ke Master program mereka gak? kalau no problem itu tandanya S1 karena D3 tak mungkin bisa lanjut ke Master.Bisa di check via email, fax, tel atau agen mereka di Medan seperti kalau Malaysia bisa check ke Global Total, Australia bisa check ke IDP Australia Centre. kalau mau sambung ke Universitas negeri yang tak ada agen di sini, via email aja paling 1 atau 2 hari sudah dapat jawaban.
Sebenarnya gak ada perbedaan yang signifikan antara program D3 dan S1, system, kurikulum dan content mata kuliah hampir sama. Lamanya kuliah tak bisa jadi patokan karena S1 bagi yang cepat bisa selesai dalam 3 tahun. Jadi di Indonesia umumnya dari jumlah SKS yang membedakan D3 dan S1. Ada juga sekolah program D3 nya lebih titik beratkan praktek dari teori contohnya akademi perawat, AMIK dll supaya bisa langsung kerja begitu tamat. Seperti yang Thio sebutkan, adalah sangat rugi dalam apply pekerjaan kalau status degree kita D3 terutama lamar ke kantor pemerintahan, pangkat D3 jauh lebih rendah dari S1 kalau tak salah D3 itu pangkat golongan 2B sedangkan S1 pangkat golongan 3A. Dari 2B ke 2C butuh 4 thn, 2C ke 2D 4 thn, 2D ke 3A 4thn, bayangkan kalau teman2 Gia yang berasal dari satu Uni dan satu jurusan, yang Honours dapat D3 sedangkan yang lebih bodoh disetarakan S1, seandainya sama2 diterima di kantor pemerintahan yang sama, wah, kasihan yang D3 ini, ketinggalan 12 tahan hanya karena human error. Gak tahu bagaimana cara kerja Dikti? saya juga korban penyetaraan, wisuda Oktober tahun lalu di Monash University, Melbourne. Jumlah SKS saya 144, sudah dapat Offer letter dari Monash U untuk intake awal bulan ini tapi sudah saya cancel karena faktur resesi global.Karena ingin jadi PNS bulan lalu saya ke Dikti untuk setarakan degree. Tak sangka dapat D3 pada hal segala persyaratan S1 terpenuhi ! Kasihan ibuku, karena beliau yang paling berat memikul selama kami( saya dan abangku )kuliah. Mungkin anda akan bertanya, kenapa gak kerja part-time untuk meringankan orang tua sewaktu kuliah di Melbourne (3 1/2 thn)? Gia dan Thio, itu cobaan buat kita yang beragama Islam, kerja part-time di sana rata2 di restaurant, memang upah sangat tinggi per hour bisa mencapai AUD 15-16, namun kita akan kehilangan waktu Zhuhur atau Ashar terutama Magrib.Kalau sudah menetap berbulan bahkan bertahun di sana tentu bukan musafir tak mungkin kita bisa jamakkan shalat kita, yang bisa rutin laksanakan paling Subuh dan Isa. Itupun berbahaya,karena kalau kerja malam pulang dalam kondisi terlampau capek bisa kelewatan Subuh. Antara berpenghasilan dan Ibadah, orang tuaku pilih lebih baik mereka banting tulang di Medan untuk biayai uang sekolah kami dari pada kami kerja lantas rusak ibadah.Sekarang mereka sudah tua, namun mereka masih ingin saya lanjut ke jenjang Master, kuliah dalam negeri sudah terbentur D3 Dikti ini, mudah2an Allah SWT memberi petunjuk kearah mana saya harus melangkah.amin. Wassalam dari Dinul Medan.


Tanggapan:Ikhsan
Melbourne( 14 Maret 2009, 06:35:14)
Dear Admin Ditjen Dikti,
Hope DITJEN DIKTI INDONESIA will take note and reply to Dinul degree’s case, because his case is genuine from a WELL-KNOWN and WORLD RECOGNISED UNIVERSITY.Further more he only plead for FAIRNESS from his “DEGREE” and nothing more. Please kindly pass this message to Prof.DR.Fasli Jalal, Dirjen Dikti Diknas RI.
Thanks and best regards from Ikhsan, one of Monash University alumni.


Tanggapan:Ikatan Mahasiswa Muslim Monash Melbourne
Melbourne, Victoria( 15 Maret 2009, 10:54:36)
Assalam Mualaikum W.W.
Yang terhormat,
Bapak Prof. Bambang Sudibyo/Menteri Pendidikan Nasional RI
Bapak Prof.DR. Fasli Jalal/Dirjen Dikti Diknas RI
Bapak Direktur Akademik Urusan Luar Negeri
Bapak Kepala Seksi Penilaian Ijazah luar negeri
Bapak/Ibu Admin
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Ditjen Dikti
Di Senayan Jakarta,
Dengan hormat,
Kami, beberapa Mahasiswa Indonesia yang pada saat ini sedang mengikuti kuliah program Bachelor of Arts di Monash University, Melbourne, Victoria, Australia ingin memberikan sedikit tanggapan terhadap kasus penyetaraan degree Bachelor Of Arts ( Politics, Communication ) senior kami Dinul Fiktri Anchan yang disetarakan dengan D3 ( Sk Dikti no. 0494 tgl 27-02-2009 ):
Di Monash College tak ada Diploma of Arts (setara D3) yang berprogram Political Science/International relation. Program ini hanya terdapat di Monash University, Melbourne. Bachelornya dengan SKS sebanyak 144 equal dengan S1 negara kita. Berhubung kami sekarang sedang di jurusan yang sama seperti sdr Dinul dengan keyakinan bahwa apa yang sedang kami ikuti adalah program S1 maka melalui kolom tanggapan ini kami memohon dengan segala kerendahan hati agar diberi penjelasan :
(l) Apa yang menjadi landasan penyetaraan ijazah luar negeri yang menentukan degree itu D3 atu S1? Sayang Sdr Doli A Harahap dari Medan tidak sebutkan nama Universitynya di Malaysia.Kami sangat ingin penjelasan mengapa temannya yang Bachelor of Information System (Hons) yang diambil sesuai dengan arahan atase Kedutaan di Malaysia hanya disetarakan D3?
(2) Mengapa senior kami Dinul F Anchan yang sudah selesai program Bachelor of Arts ( double major in Politics, Communication ) dengan jumlah SKS sebanyak 144 tanpa pernah fail, sudah dapat offer letter untuk melanjutkan ke jenjang Master of Arts hanya disetarakan dengan D3 di Indonesia kita? hal ini sangat penting kami ketahui karena menyangkut masa depan kami. Dari penjelasan Bapak2 bisa kami menentukan sikap ke arah mana kami akan bergerak ke depan.
Demikian permohonan kami, mohon kesudian Bapak2 Dikti Diknas RI untuk memberi tanggapan.Seandainya ada kesalahan atau kekhilafan baik kata maupun sikap dalam membuat surat ini, kami mohon maaf sebesar-besarnya.
Wassalam dari: Ikatan Mahasiswa Muslim Monash Melbourne.


Tanggapan:Lisa
Malaysia( 15 Maret 2009, 11:18:55)
I am in USM Malaysia, feel most sad and disappointed to learn our Education Ministry treats Monash University degrees as inferior to local Indonesia Universities degrees. Feel funny this is peculiar to happen in our Education world. For long time, until recently, Malaysia local Universities view foreign degrees from UK, Australia, NZ, Ireland US etc as inferior to local universities. Never imagined our Country hold same view too.Lisa,Malaysia.

Disitu mas Dinul mengatakan ada peraturan tidak tertulis (Atau tertulis, kalau ada saya minta peraturannya) yang mengatakan untuk membedakan hanyalah jumlah Unit/Credit Hours/SKS dari program yang pendidikan. Untuk bisa disetarakan sebagai S1 “katanya” harus mencapai SKS minimal 144. Saya hanya merasa itu peraturan aneh kalau memang benar-benar tertulis, tetapi kalaupun memang benar adanya tertulis, saya ikhlas ijazah saya yang hanya 114 SKS dengan gelar Bachelor of Information Technology with Honors itu hanya dianggap D3. Saya hanya ingin bertanya mengenai peraturan dan aturan main yang jelas dan memang sudah diatur oleh Undang-Undang.

Dalam hal ini, biasanya orang-orang akan berkata, “sudah, lanjutkan saja lagi kuliah S2 di negara tempat kamu S1 tersebut, selesai perkara, toh semua gelas Master diakui di Indonesia”. Oke, masuk akal. Tapi tidak untuk orang yang memang bercita-cita ingin menjadi PNS, atau ingin melanjutkan program S2 di Univeristas di Indonesia, atau juga untuk orang yang kurang mampu tamatanĀ  S1 di luar negeri yang didapatkan melalui program beasiswa dan tidak sanggup untuk melanjutkan S2, apakah beliau ini juga harus menanggung gelar D3????

Bagaiamana pihak-pihak pendidikan Indonesia menjawabnya?

37 Responses

  1. Ki Syafrudin June 8, 2009 / 11:11 AM

    Sebetulnya peraturan tentang penjenjangan Diploma dan Sarjana sudah jelas, setahu saya mengacu ke Kepmendiknas 232/U/2000, antara lain di Bab III dijelaskan tentang beban dan masa studi:
    Pasal 5:
    - Sarjana: 144 – 160 sks, dijadualkan 8 semester setelah pendidikan menengah.
    - Magister: 36 – 50 sks, dijadualkan 4 semester setelah pendidikan sarjana.
    - Doktor:
    -> bagi lulusan magister sebidang: minimal 40 sks dijadualkan 4 semester.
    -> bagi lulusan magister tidak sebidang: minimal 52 sks, dijadualkan 5 semester.
    -> bagi lulusan sarjana sebidang: minimal 76 sks, dijadualkan 8 semester.
    -> bagi lulusan sarjana tidak sebidang: minimal 88 sks, dijadualkan 9 semester.

    Pasal 6:
    - Diploma I: 40 – 50 sks, dijadualkan 2 semester.
    - Diploma II: 80 – 90 sks, dijadualkan 4 semster.
    - Diploma III: 110 – 120 sks, dijadualkan 6 semester.
    - Diploma IV: 144 – 160 sks, dijadualkan 8 semester.

  2. Ki Syafrudin June 8, 2009 / 11:18 AM

    Dari kutipan peraturan di atas, mungkin cukup jelas alasannya jika seorang Bachelor of Information Technology with Honors lulusan USM dianggap hanya D3 dengan melihat beban studi yang 114 sks, karena beban studi untuk jenjang D3 memang antara 110 sampai 120 sks.

  3. Doli Harahap Doli Harahap June 8, 2009 / 5:42 PM

    @Ki Syafrudin

    Yaitu..peraturan aneh..
    hanya berlaku di Indonesia..

    Besok2 kalo negara luar menolak lulusan S1 Indonesia untuk nyambung kuliah S2 di luar baru kapok..
    Malaysia udah punya isu2 seperti itu..akibat banyak lulusan Bachelor di Malaysia banyak yg cuma dianggap D3..

    Ada juga yang bilang, anak2 yg kuliah di Malaysia hanya karena ga lulus SPMB/UMPTN ato apalah namanya..
    Sombong bener yang ngomong gitu..
    Ayok lah adu ilmu..

  4. Sulthon Sjahril June 11, 2009 / 9:17 PM

    saya Sulthon Sjahril, saya juga ingin ikut nimbrunk …. saya juga lulusan Bachelor of Commerce dari University of Wollongong, Australia hanya mendapat D3 di Dikti, Padahal sebelumnya saya kuliah di Thailand, Assumption University dan udah kuliah banyak juga disana, tapi karena pindah ada sekitar 30% dari mata kuliah tersebut tidak diterima di Uni of Wollongong, padahal kalo di total yaa melebihi 144 SKS kali ya … juga … Bachelor saya totalnya 144 sks PLUS yg tdk ke transfer waaahh … kelebihan banget …. BINGUNG NIH … orang DITJENnya sangat tidak memperhatikan kasus2 seperti ini.

    Jadi dengan kepaksa saya harus ambil S2 di luar negeri (Padahal ada niat juga utk kuliah dlm negeri kala itu), untung aja ada biaya … tapi pada waktu yg bersamaan DIKTI memaksa kita utk mengeluarkan dana lagi utk sekolah luar negeri … terjadi pengeluaran devisa padahal dulu sempat kepikir mau kuliah di UI misalnya.

    Saya heran kerjaannya di bagian ditjen urusan ijazah luar negeri itu apa ya? Padahal ini udah dari DULLLUUUUUU terjadi … yg HEBAT DIAAMM AYEMMM semua … seolah2 komen tidak terdengar semua … seharusnya sih yg lebih baik KITA yg jadi korban ini harus ramai2 bersatu dan buat suatu forum … utk mensosialisasikan keanehan ini .. agar kelak junior2 kita yg kuliah S1 khususnya nggak SAKIT HATI pas pulang …

    YG gw tahu sih, feeling aja ya … staf2 di depdiknas yaa mungkin nggak pernah/ada kuliah S1 di luar negeri . Jadi belum ada korban, yg makan tuannya sendiri… kalo ada mungkin yaa ceritanya beda,

  5. Ki Syafrudin July 30, 2009 / 5:03 PM

    Maaf, baru sekarang nengok halaman ini lagi.

    Saya mengutipkan peraturan sebagai fakta untuk diperhatikan oleh siapa saja, bukan sebagai pembelaan bagi orang Dikti, karena saya juga ada kepentingan kuliah di luar negeri.

    Meski saya sendiri termasuk yang tidak setuju terhadap syarat 144 SKS, namun mengenai pendapat bahwa peraturan itu aneh, menurut saya di luar negeri juga ada peraturan serupa.

    Seperti Deklarasi Bologna di Eropa :
    - Bachelor degree: 3 – 4 tahun, 180-240 ECTS credit.
    - Master degree: 1,5 – 2 tahun, 90-120 ECTS credit.

    Di Inggris Raya:
    - Foundation degree: 240 CATS
    - Bachelor degree: 300 CATS
    - Bachelor (Honour) degree: 360 CATS

    Di Selandia Baru:
    - Bachelor degree: 3 tahun, 360 credit.
    - Bachelor degree (profesional): 4 tahun, 480 credit.
    - Bachelor (Honour) degree: tambahan +120 credit termasuk 30 credit untuk penelitian.
    - Master degree: 1 – 2 tahun, 120 – 240 credit.

  6. Mohamad Iqbal August 9, 2009 / 11:58 AM

    setiap negara memang ada peraturan atau standarisasi jumlah SKS berdasarkan sistem masing2 negara, bagi negara2 maju saya yakin mereka memberlakukan standarisasi SKS sudah berlaku dengan proporsional dan melihat bobot materi yang di berikan, tapi di indonesia menurut saya yang emang keterlaluan

    kebetulan saya kuliah di indonesia dan mengambil international undergraduate program, banyak mhs luar yang sempet jadi teman saya bbrp semester, terutama dari australia. bobot sks mereka emang lebih rendah daripada kita, hanya kepadatan dan kualitas materi jauh mengungguli kita!, mereka efektif dan efisien, kalau bisa 114an sks kenapa harus sampai 144 sks?? DIKTI kita cuma berpijak sama ANGKA SKS tanpa ada peninjauan terhadap kualitas yang di berikan, kalau menurut saya, dari segi kulitas peraturan yang ada justru malah terbalik…S1 indonesia setara D3 luar! melihat kualitas yang saya terima sebagai mahasiswa indonesia.

  7. someone August 24, 2009 / 4:49 PM

    Indo punya lebih banyak SKS karena ada pelajaran yg tidak berhubungan seperti agama, ppkn dan bahasa asing. Dimana mata kuliah ini tidak wajib di LN

  8. Yudistira October 6, 2009 / 11:02 AM

    Wah, jadi mikir beberapa kali mo sekola ke negara sebelah… nanti anakku gimana ya kalo serba gak jelas gini :(

  9. Korban October 19, 2009 / 5:29 PM

    faktor2 lain yg mungkin dapat jd masukan untuk dikti dalam melakukan ‘penyetaraan’ ijazah luar negeri:

    1) kuliah di indokan bisa nyontek!! skripsi tinggal tanya senior dehh, dosen di indokan menilai tugas2 hanya matasatu; satu kelas satu jawaban. kl ‘kuli’ diluar mau nyontek sm siapeee!!! mungkee gileeee kl ga ngandelin otak sendiri. bedanya kl di indo susah bedain yg bego sm yg pintar (kemampuan akademis tiap2 individukan beda), di luar yg bego bisa lebih maju. palagi yg IQ tinggi..

    2) Yg menentukan kualifikasi seseorang adalah instansi si pencari tenaga kerja. so simple… menurut gw kurang fair n unnecessary a.k.a ‘stupid’ apa yang dilakukan oleh dikti. Toh ga ada bedanya jika semua bachelor semua setara s1..tes psikologinyakan sama.. bersaing secara sehat dong!! jangan main hakim sendiri..

    3) sebenarnya sangat mudah untuk memperjelas ttg kriteria penilaian dikti..jika hasil evaluasi dikti yg di umumkan di web tercantumkan gelar yg diberikan oleh universitas luar negeri tersebut (misalnya BSc. BSc (HONS), BComm, BComm (HONS), MSc, MSc (HONS), PHd (HONS) etc.). ini sebenarnya di catat di undang2 tetapi entah alasannya.. dikti hanya mencantumkan program studi dan jenjang penyetaraan. maksudnya biar jelas yg mana yg jenjangnya d3 atau s1

    begitulah negeri ini yg msh memberlakukan hukum rimba. dimana lulusan luar negeri BSc. dr univ kelas dunia bisa di jadikan D3…reformation my ass!!

  10. Wempi November 13, 2009 / 8:05 PM

    Gak ambil pusing :lol:
    wempi hanya lulusan dalam negeri. xixixi

  11. perlu banget ga ya? January 21, 2010 / 2:02 PM

    Wah, parah juga syaratnya.Ya udah deh, jadi warga asing aja sekalian. Dinegara sendiri aja ga dianggab.

  12. Rizal July 18, 2010 / 9:40 PM

    gua nimprung nih….Pernyataan Doli, memang yang kuliah diluar khususnya Malaysia, belum tentu tidak lulus SPMB, tapi kebanyakan nya seperti itu. Kebanyakan orang yang kuliah disana khususnya S1, pada gagal semua di SPMB milih Universitas ternama di Indonesia, ya kita akui aja memang kuliah di Indonesia memang lebih sulit masuknya, bahkan ASIA WEEK Hongkong pernah menerbitkan berita bahwa ITB merupakan Test masuk tersulit se-ASIA (orang2nya pada pinter2, tapi fasilitas tidak begitu lengkap, jadinya kehebatan tertunda). Karena itu man wajar indonesia banyak yang hebat. engineer indonesia jauh banyak diakui diperusahaan asing dibanding malaysia. tapi man fasilitas dan keseriusan pemerintah memang jauh dibanding kan keseriusan pemerintah malaysia dibidang pendidikan. jadinya karena fasilitas di indonesia kurang, jadi nya buat teman2 gua yang pada goblok, ndak gobloklah, tapi orang kalah bersaing aja. cepat buruan ke malaysia aja, kan kasihan udah goblok, kuliah difasilitas minim, kayak di indonesia. tragis bangetkan. yang pinter2 kayak mahasiswa ITB, UI, UGM, ITS, dan IPB. pinter tapi fasilitas kurang ndakkurang2 amat sih, cuma tidak maksimum aja. memang baiknya yang pinter2 kayak mahasiswa diatas diberi fasilitas yang mantap, biar bener kelihatan hasilnya. walaupun fasilitas minim, tapi karena pintar tetap aja ITB dibidang IT&Engineering peringkat 80 besar Dunia menurut THE-QS 2009. mengalahkan universitas di malaysia. jadinya tepat buat dolli harahap (satu marga kita man) untuk kuliah di Malaysia. klo gublok tidak didukung dengan fsilitas yang memadai giman jadinya ya?????. kayak adik gue aja, ndak lulus UNPAD (Padahal hanya Unpad, belum yang lain man) tapi dia bisa masuk Bachelor of accountant di universiti of malaya (Terbaik Di malaysia). itu karena aku tidak mau adikku (yang kuanggap Goblok) menerima fasilitas biasa aja, semoga fasilitas yang baik di malaysia pendukung buat dia, ya lebih baik. kesimpulannya: pilihanmu sudah tepat man.

  13. Rizal July 18, 2010 / 9:54 PM

    Nimbrung lagi……………. Yang DIKTI, Fair aja …tapi harus jelas, dan ada pemberitahuan disaat mahasiswa indonesia mau sekolah keluar (MALAYSIA, OR AUSTRALIA), 144 SKS memang tidak semua mata pelajaran sesuai dengan core kita. sama aja sih di malaysia juga ada 15 SKS yang diluar core kita. yang terpenting, ada pemberitahuan yang jelas, sehingga semuanya adil (tahu resikonya). disaat mahasiswa indonesia yang mau keluar, seharusnya didukung, dari pada harus sekolah swasta nasional tau PTN2 yang peringkat dan kualitasnya yang kagak jelas. lebih baik kita dukung mereka sekolah dimalaysia (di universitas terbaik malaysia), kalau bisa yang sekolah dimalaysia orang indonesia semua, yang cum laude juga Indonesia. jadinya orang malaysia pada ndak kuliah. hehehe.

  14. Yancho July 26, 2010 / 6:49 AM

    Jujur.. gw ngeri nih pulang lagi ke Indonesia.. gw S2 di Spain.. 50 SKS,. tapi yang jadi masalah 50 SKS itu selesai hanya dalam 3 Semester, 10 Bulan.. takutnya udah bayar mahal2 tapi gak direcognize sama Dikti.. ironinya.. Kampus gw itu top 10 di Financial Times, WSJ, dan BusinessWeek.. gimana tuh Dikti?

  15. Anto August 6, 2010 / 4:17 PM

    Wduh… Gmana donk kalo mau ambil S2 di indonesia make ijazah bachelor of science dari Corban University USA..?
    Rencananya mau ambil di Indo, takutnya disetarakn D3….Pdhal tidak punya uang untuk ke Luar negeri…. Cuma beasiswa kodonkk……………..
    Tolong pihak Dikti, betul-betul memikirkan masaalah ini…
    Kasian yang sudah capek2 dan memeras otak sampe ke luar negeri….
    Sebelumnya sy tdk tahu tntang ini, sy cma tau klo S1 di LN sama dengn S1 di Indo…
    Jd yang mau kulia ke luar negeri, khusus untuk S1 mikir dlu deh…. Tapi Universitas indo sngat jauh dri Universitas di luar negeri….. Yahhhh itulah kenyataannya…
    Kasian jg si yang membuat peraturan itu,, mereka masih berpikr dulu-dulu…jman soekarno…
    This procedures need to be transformed….
    Lulusan S1 luar negeri bersatulah…..we are not stupid than S1 Indo…

  16. admin admin August 7, 2010 / 9:11 AM

    Ini tulisan sudah berumur 1 tahun lebih. Dari perkembangan yang saya dengar, semenjak Bapak M.Nuh menjabat Menteri Pendidikan Nasional, kebijakan ini sedikit berubah ke arah positif. Tapi jelasnya bagaimana saya kurang tahu. Kalau ada yang mempunya informasi bisa dishare disini.

  17. Stoner November 25, 2010 / 1:35 PM

    Saya tidak penah sekolah keluar negeri, tetapi saya yakin pendidikan indonesia jauh ketinggalan dibanding malaisya sekalipun, apalagi negara maju. di indonesia kita tahu perpustakaan sangayt minim dan lama. emang gak gampang beli buku, kan mahal!!!. gampang aja gak ada biaya untuk pendidikan bagus tuh, termasuk yang dikatakan juga UI ITB dll. coba lihat kualitas bukunya karangannya, bahkan penterjemahan buku udah lama lama tuh!!! saya nasionalis tulen tapi harus jujur. Makanya dikti jangan sombong. yang namanya ilmu pengetahuan bukan lokal tetapi universal, termasuk dalam degreenya. indonesia perlu demokratisasi dalam bidang pendidikan. termasuk dosen dosennya tuh banyak obyek aja, gak mau baca dan ngaak mampu beli buku yang konon mahal 2 itu, dosen dosen terlalu arogan dan maunya sendiri, tidak ada kebebasan akademis merasa murid muridnya bodoh semua, padahal dia sendiri mandeg tuh, alias macet untuk masa kini. cuma bisa ngulang diktatnya yang dipakae dulu, gak ada inovasi dan kreativitas. Tentunya gak semua tapi kebanyakan hampir dibilang 90-95 % tuh. celaka indonesia ini karena ulah segelintir orang dikti (yang pengetahuannya kadaluarsa) dan diknas yang tidak berpikir global. akhirnya, sekarang tergantung diri sendiri jugayang pandai pandai menggunakan sarana yang minim itu dan mampu mengembangkan diri, bukan berdasrkan darimana sekolahnya. untuk lulusan indonesia, jangan jargonisme sekolahan nanti kecewa juga, karena sekolahpun gak peduli kita nantinya, kecuali kita jadi petinggi, lalu gembor gembor. padahal bukan karena sekolah aja tapi karena diri sendiri yang paling banyak. ijasah sekolah hanyalah pintu masuk, setelah masuk banyak juga yang cuma jadi koruptor dan penipu sesama manusia.
    salam

  18. Mutiara Dwi Sari January 4, 2011 / 12:02 PM

    Assalmmualaikum pak Ki Syafrudin…mudah mudahan bapak gak terkena batunya seperti sy dan teman teman yg lain. Saya lulusan Management USM Malaysia, juga diakui DIII, yg herannya saya kenapa peraturan itu inkonsisten????? ada beberapa teman yg nyata nyata sama kuliah, sama fakultas, sama duduk kuliah, sekelas dikasih s1…sy udah berkali menanyakan ke orang dikti jawabannya seprti dialog nagabonar dgn pak polisi dalam filem nagabonar jadi 2…..kenapa begitu buk? yah karna begitu, kenapa begitu peraturannya, yah krn memang dr dulu peraturannya bgt? kenapa peraturannya begitu? yah memang begitu? sy tdk tahu, dy hanya jalankan aturan, bukan sy buat keputusan,,,,persis kyk difilem nagabonar heheheeh…..selidik punya selidik, minta maaf….kami yg dikasih DIII meneliti, dr semua teman yg dapat S1, adalah mereka yg extend jadi tamat 4 tahun, nah krn lebih dr 3 tahun, maka dianggap S1. Nah kami yg tamat tepat waktu 3 tahun=sesuai dgn angka 3 nya jadi DIII. Inilah kesimpulan sementara kami, krn tdk dapat jawaban yg memuaskan. Yess…kalau memang bgt yang bpk ki syafrudin katakan …tp kenapa INKONSISTEN?……jd nyesel deh rajin belajar, cepat tamat heheheeh….

  19. Mutiara Dwi Sari January 4, 2011 / 12:10 PM

    Sebagai tambahan, sy sekarang sudah menyelesaikan program S2 saya di universitas yang sama iaitu USM, Malaysia dalam bidang Public Administration. Nah yang herannya….. tp Alhamdulillah jugalah…. diakui oleh dikti sebagai S2 sama kyk di Indonesia…uh uh gak logik jg sy mikirkannya…dari DIII loncat ke S2..tp sudahlah Alhamdulillah aja……

  20. admin admin January 4, 2011 / 1:07 PM

    Ternyata masih rame juga postingan saya ini. Semoga bermanfaat bagi yang lain.

  21. Mutiara Dwi Sari January 4, 2011 / 1:51 PM

    yah makasih juga buat pihak admin, yg mengorganize blog ini, setidaknya ada tempat untuk menumpahkan uneg-uneg….Setahu saya bergantinya menteri, maslahnya tetap sama, gak byk perubahan, masahnya bulan lalu sya baru saja mengurus semula penyetaraan ijazah untuk S1 saya, hasilnya tetap sama, tetap DIII, ktnya karna mang itu peraturannya. Lalu timbullah pertanyaan saya, Lantas, yang bagaimana kah yang disetarakan S1 di Indonesia?….yg bagaimana????? .

  22. Mutiara Dwi Sari January 9, 2011 / 5:01 PM

    teman teman tentang org indonesia yg kuliah di Malaysia yg dikatakan pada gobloi semua (gak lulus spmb) mgkn gak seluruhnya, tp orang malaysia gak mau tahu itu, krn penerimaan di malaysia utk pelajar luar negeri hny berdasarkan sistem quota…misalnya quota u pelajar luar negeri 10 orang , kalo yg mendaftar dibawah 10 orang yaah otomatis diterima dgn uang kuliah yg 8X lipat mahal drpada local student, Dan…..memang impak goblok ini terbawa masa kuilah, kebanyakan pelajar kita disini (pengalaman sy di USM) minta maaf..prestasinya jelek, banyak yg kena P1, P2 dan akhirnya drop out, krn dimalay kuliah pake sistem DO, kalau 2 semester berturut-turut IPK dibawah 2.00. Nah sekarang sy dgr pihak Universitas di malaysia udah sgt menyadari itu, terakhir fakultas management USM (sekedar info fak.management USM 20 terbaik Asia)…kabarnya mengambil sangat sanagat ketat pelajar dr Indonesia karna udah kapooook bahkan kabarnya mau me black-list student dr Indo. Benar aja teman teman utk tahun kemaren cuma 3 orang pelajar Indo yg diterima untuk keseluruhan fakultas di Universiti sains Malaysia , salah satu Univ terbaik di Malaysia. salam

  23. me October 4, 2011 / 8:15 PM

    ironi sperti itulah yang akhirnya membuat banyak warga indonesia yg kuliah overseas “tidak” ingin kembali ke indonesia, krn scr tidak langsung kita tidak didukung untuk menggunakan ilmu yg kita dapat untuk membangun dan memajukan negara kita sendiri

  24. harmuzi November 27, 2012 / 11:28 AM

    maaf mas kok aneh ya… masak capek capek belajar,,, tapi di negeri sendiri ga di hargai,, tetapi di negeri orng lebih di hargai.. kek mana indonesia bisa maju.. yang ada malah mempersulit anak bangsa…
    oh ya ana juga alumni malaysia ,,, IIUM cuma belom membuat penyetaraan ijazah.. btw jadi takut., takut di setarakan ma d3

  25. Baim August 27, 2013 / 5:38 PM

    Wah jadi gimana ni bg, tahun ini ane lulus dari FTSM?

    • Doli Anggia Harahap Doli Anggia Harahap March 23, 2014 / 4:09 PM

      Sepertinya kalo UKM udah disetarakan S1 kalo aku ga salah. Coba aja cek dan ricek.

  26. andre September 16, 2013 / 12:50 AM

    Ijazah S 1 di Indonesia di akui Sebagai Ijazah D 3 Luar negeri dan kalau Ijazah S 2 di akui sebagai ijazah S 1 di luar negeri .
    karena itu saya pernah sharing ama teman ku dulu pernah kuliah di singapore dan satu kampus tetapi ijazah S 1 di akui Sebagai Ijazah Diploma 3 di Singapura .ada Dosenku kuliah di amerika tidak mengakui ijazahnya tetapi S 2 nya harus ambil dari awal .

    • Doli Anggia Harahap Doli Anggia Harahap September 16, 2013 / 8:23 PM

      Saya rasa tidak seperti itu. Coba cari info yg lebih akurat. Pendidikan Indonesia tidak seburuk itu kok.

      • Yaumil Fitra November 23, 2013 / 4:04 AM

        Assalamualaikum bang doli,

        Saya baru baca halaman ini, dan bener2 kaget bang, saya sekarang lagi kuliah di eropa. Jadi takut klo balik ke indo terus ijazah bachelornya di setarakan dengan D3 indo, yang saya mau tanya klo seandainya standar SKS 144 untuk S1, berapa standar ECTS yang diakui oleh dikti di indonesia untuk lulusan S1 eropa bang.
        kebetulan standar di jurusan saya 180 ECTS. mohon jawabanya bang.

        - Dan untuk bapak2 di dikti, kebijakan ini secara tidak langsung membuat mahasiswa tamatan luar negeri yang justru lebih berpengalaman, serta memiliki keinginan untuk membangun Indonesia memilih untuk tinggal atau membangun negara tempat dia belajar, mengingat kemampuannya tidak diberikan appresiasi yang setimpal oleh negaranya sendiri (INDONESIA)-. Tolong di pertimbangkan.

  27. andre September 16, 2013 / 12:53 AM

    kalau pendidikan indonesia setara dengan negara philippine tetapi kalau ama negara jepang dan singapura tidak setara .

  28. ulilabshor January 26, 2014 / 5:16 AM

    assalamu alaikum.. sebenernya gimana sih kok saya tambah bingung. kebetulan saya baru lulus dari al azhar cairo kemudian akreditasi di dikti dan masih dalam proses namun setelah saya cek jenjang penyetaraannya D 3 sedangkan kawan saya mendapat S1 tapi memang kawan saya di azhar ditempuh dlm 4 tahun sedang saya 8 tahun. apakah itu menjadi permbedanya .saya jadi bingung. wah kl dapet D3 berarti harus kuliah S1 lagi ?

  29. Raziz March 12, 2014 / 2:10 PM

    Salam… Saya juga lulusan luar negeri,di universitas gregoriana, dengan gelar baccalaurete sacred in theologiae. sampai sekarang belum penyetaraan di dikti. saya tidak permasalahkan diakui atau diseterakan atau apalah… sy juga tdk permasalahkan gelar akademik, turun jenjang, atau apalah… yg sy permasalahkan,BAHASA, DAYA SAING dan KUALITAS. Bukan mau sombong, tetapi kalau anda kuliah ke luar negeri, pertama-tama yg anda siapkan adalah bukan beras atau jagung tapi BAHASA. Nah, apa yang anda lakukan kemudian? anda harus BERSAING dengan seribu satu macam kenyataan yg ada, sehingga anda “pulang ke rumah” anda bermanfaat atau BERKUALITAS untuk negara dan bangsa. Bayangkan saja, seorang italia atau inggris atau jepang berkunjung ke indonesia, apa yang “sarjana pertanian” lakukan??

    • Doli Anggia Harahap Doli Anggia Harahap March 23, 2014 / 4:12 PM

      Tujuan penyetaraan ijazah ini juga untuk dipake buat ngelamar kerja ke institusi milik pemerintah aja kok mas. Kesimpulan saya, sepertinya mas juga ga bakal mau balik-balik ke Indonesia buat kerja di institusi pemerintah, bukan begitu?

      Jadi ya ga usah khawatir lah. Tidak usah disetarakan juga ga papa kok tu ijazah. Saya sampai sekarang belum menyetarakan ijazah saya, karena saya rasa juga tidak mempunyai kepentingan untuk itu pada saat ini.

  30. Salim April 5, 2014 / 3:20 PM

    Salam…. saya lulusan dari universitas di malaysia… tapi disetarakan di dikti hanya akan jadi d3… saya berencana ingin mengambil S2 diluar negeri dengan program beasiswa dari pemerintah… apakah ijazah s1 saya perlu disetarakan dahulu, dimana jika disetarakan saya akan gagal mendapatkan beasiswa karena syarat mengambil S2, telah lulus S1. Mohon petunjuknya… Terima Kasih

  31. Ronny wijaya zulkarnain July 16, 2014 / 6:46 PM

    Ikut nimbrung, sy kuliah 3 thn di curtin university malaysian campus dan mendapatkan gelar Bachelor of Commerce, bulan juni lalu saya mengajukan persyaratan dan hasilnya BCom. Saya disetarakan dgn Diploma III, tp ketika saya ambil S2 di Universitas Tanjungpura Kalimantan barat – universitas negri di Kalbar, (sebelum meminta penyetaraan) buktinya di terima dan sekarang saya sudah bergelar M.M…jadi gimana sih maunya dikti ini? Masa D-III bisa langsung ambil S2?
    Yg jadi masalah, skrg saya mengajar di salah satu universitas dan sedang apply NIDN, jd gimana ini, sangat2 membingungkan…

  32. anon August 22, 2014 / 2:57 PM

    Salam mas.
    Saya mau nanya, kalau tamatan Malaysia dan ingin melanjutkan kuliah di eropa apakah ada syarat khusus lagi ?
    terimakasih mas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>