Belajar Untuk Berbagi

learn to share knowledges | learn how to share knowledges

08 2008

(Maap) “Emansipasi” wanita perlu atau enggak ya?

Baru saja saya membaca tulisan dari mbak Maya Puspita Sari yang berjudul Kalau sudah besar aku ingin menjadi IBU, tulisan yang saya rasa sangat menarik. Dimana sebagian wanita di Jepang rela meninggalkan pekerjaan dan karirnya demi mendidik dan mengasuh anaknya.

Ya memang benar persamaan derajat pada wanita harus disamakan dengan kaum pria, tapi harus dilihat dalam konteks dan saya rasa kembali ke kodrat masing-masing (Pria ataupun Wanita). Seperti Ibu kita Kartini yang memperjuangkan hak-hak wanita agar disamakan dengan kaum Pria, yaitu dalam bidang pendidikan. Jelas terlihat dalam petikan yang dituliskan oleh mbak Maya di blognya.

Jadi jangan menyalahartikan kata-kata “emansipasi”. Bukan persamaan derajat suapaya Wanita bisa sejajar dan disetarakan dengan Pria, tapi lebih kepada untuk wanita mendapatkan hak-hak mereka dan tidak lupa kepada kodrat masing-masing.

Hati-hati dengan pemikiran dan paradigma-paradigma yang kadang membuat kita menjadi malah memperjuangkan yang salah.

tambahan, saya kurang setuju dengan pemaknaan HAK ASASI MANUSIA yang selama ini berjalan di negara kita. Kenapa?
Nanti saya coba tuliskan unek-unek saya lagi.

-
salam berbagi


8 Responses to “(Maap) “Emansipasi” wanita perlu atau enggak ya?”

  1. Stuju rin dol… Mbak Kartini udah ngebukain jln utk kaum wanita utk dapetin pendidikan, biar wanita tu gak bodo(maap) dan gak di bodo2in.tp srg di salah artikan. Byk di negara kita tercinta ni yg disalah artikan. Kebanyakan sih disalah artikan utk keuntungan pribadi. Lebih milih perspektif “keuntungan pribadi” dari pd perspektif “kebenaran”.

    Kembali ke kodrat masing2, jelas ada “kewajiban” masing2 kan…

  2. Bagi wanita, kata “emansipasi” tidak berlaku untuk kondisi berikut:
    - Angkat barang yang berat - berat (galon air, karung beras)
    - Traktir

    Kalo sudah menemukan kondisi diatas, pasti keluar tuh kata - kata “AKU KAN CEWEK”

    Ada lagi yang mau menambahkan kondisi di atas?

  3. Emansipasi lagi tren yach!
    Kebanyakan sih..
    Eman si sapi hanya ple doi

  4. Mungkin kata-kata emansipasi dari yg jaman dlu sama yg hari ini kita liat udah mengalami perluasan makna.

    Tapi kalau menurut saya, emansipasi wanita sampai kapanpun harus tetap diperjuangkan, dalam konteks pendidikan mungkin emansipasi ini udah berhasil, tapi masih banyak kan sisi lain dari kehidupan dimana wanita tidak mendapat hak seutuhnya, misalnya kekerasan dalam rumah tangga, ato kekerasan TKI yg sekarang banyak terjadi dimana-mana.

    Sebenarnya mungkin ga perlu membawa gender perempuan ato laki-laki. Mungkin sebenarnya konteksnya adalah kalau ada individu yang tidak mendapat hak seadil-adilnya yg sharusnya dia dapatkan, yah harus diperjuangkan, ga pandang bulu mo laki-laki ato perempuan.

    Untuk kasus, perempuan berhenti kerja setelah punya anak. Itu memang saya stuju. Simpel aja, perempuan itu tetap perempuan, mo sampe ujung dunia harus balik ke kodratnya bahwa dia adalah seorang ibu, yang harus ngurus suami, anak2, harus masak, ngurus rumah tangga dan lain2. dan untuk mendukung itu, sang perempuan juga harus didampingi oleh imam yg seimbang. BERHENTI BEKERJA BUKAN BERARTI BERHENTI BERKREATIF.

    Simple aja toh ya..
    :D

    *muup agak2 ngelantur, abisnya lagi pusing ama sekolahan things hoossh

  5. emansipasi sih perlu ga perlu…

    mungkin lebih ke jaga2 ya…

    kehidupankan ga selalu mulus…

    mah, terlalu panjang u. saya tulis disni…

    emansipasi perlu dipelajari dan diperjuangkan setiap saat, tapi dimana kita bisa mengaolikasikannya butuh waktu dan saat yang tepat,,,

    yang baik belum tentu benar
    yang benar belum tentu baik…

    :)

    sala kenal

    nice topik

  6. kenapa wanita merasa perlu emansipasi jika emang ga ada penerimaan yang keliru dari pria?

    menurut ibu sih… jika kita menghargai diri kita sendiri dan orang lain sama maka orang akan melakukan hal yang sama. mereka2 yang masih meributkan emansipasi pastilah ga bisa menghargai sesama atau lawan jenisnya seperti mereka minta dihargai.

    btw… kemaren2 ibu pingin nge-link ke blogmu tapi ibu pikir anak muda ga suka blog orang tua. tp ternyata kamu udah memulainya. thx yah… jadi ga susah lagi nyari2 alamat blogmu kalau pingin berkunjung :)

  7. pengalaman putri, biasanya kalau sudah masalah ngangkat berat si ‘pria’ yang main gender dengen bilang, “gak usah, ini kerjaan laki2″.
    giliran bagian bersih2 dibilang, “ayo yang cewe, kerjain tuh..”
    ada apa sih?
    kenapa kita gak ngelakuin dua2 nya bersama?
    atau terserah siapa mau melakukan yang mana, gak usah berdasarkan gender.
    toh kita join di satu proyek, sama2 ikut interview dan sama2 punya misi untuk mensukseskan proyek tersebut.
    putri seneng banget kok kalo bisa bantu ngeringanin..

    Kalo abang ni ya put, bukan mau sombong..
    tapi ga pernah koq ngomong “ayo cewe, kerjain tuh”..
    Kadang malah semua abg yg ngerjain..bisa ditanya ke orang2 koq..hehehe..

    tapi kalo ngomong “udah sini, ini kerjaan cowo”, emang sering abg bilang..
    itu karena ga tega aja ma cewe, ya emg ga sewajarnya cewe kerjain yang berat2 selagi masi ada laki2..

    tapi abg plg benci denger cewe ngmng “kerjain tuh, tu bagian cowo”…

  8. ahaha.
    balik2 ke orangnya deh..

Leave a Reply

« PNS - Masih aja berkeliaran waktu jam kerja Mengobati Luka di Wajah Indonesia »