Belajar Untuk Berbagi

learn to share knowledges | learn how to share knowledges

11  08 2008

Mengobati Luka di Wajah Indonesia

Tahun ini mungkin sangat bersejarah bagi bangsa kita. Dimana secara nasional (dan mudah-mudahan secara internasional), pemerintah kita mengusung tema tahun kunjungan Indonesia (Visit Indonesia Year 2008) dalam memperingati 100 tahun kebangkitan negara ini. Kemudian, tidak lama lagi juga kita akan memperingati hari kemerdekaan bangsa Indonesia yang seperti kita ketahui bersama sudah mencapai umur yang ke-63.

Seharusnya dengan ada peringatan seakbar itu, citra dan wajah bangsa ini sedewasa umurnya sekarang. Tapi apa yang terjadi? Di tahun ini pula banyak sebagian orang tertentu yang menambah luka di wajah bangsa ini. Luka yang semakin dalam, membusuk, berakar. Yang mungkin juga baunya juga tercium sampai ke dunia internasional. Memang hanya segelintir orang yang membuat luka tersebut, tetapi yang ingin mempercantik wajah bangsa ini seakan tidak berdaya bearada ditengah “budaya bobrok” yang sudah berakar bertahun-tahun.

Coba saja kita jabarkan luka-luka yang terjadi tahun ini.Sebut saja kasus besar di tanah air ini yang mungkin masih segar ditelinga kita. Kejaksaan Agung, kalau mau bicara jujur dan bisa ditanyakan kepada oknum yang memang dari kalangan kejaksaan itu sendiri. Sudah berpuluh tahun sebenarnya instansi penegak hukum pemerintah ini memiliki budaya melukai wajah bangsa ini, hanya saja tahun ini baru bisa diungkap. Lihat saja bagaimana sebuah perkaa bisa diperjual belikan, bahkan sampai ada makelar perkara. Seorang wanita yang keliatannya hebat dalam mengatur segalanya, hebat dalam menjiwai perannya, dan bisa membuat para penegak hukum tersebut seperti tunduk dan patuh pada setiap perkataannya.

Kemudian kita bergerak lagi ke lembaga yang seharusnya membawa aspirasi rakyat. DPR, ya apalagi? Lembaga legislatif ini yang paling menambah bau penyakit di wajah bangsa ini. Bagaimana tidak, lembaga yang dipercayakan rakyat ini malah memperjualbelikan kepercayaan rakyat demi segelintir harta. Ada beberapa kasus yang menimpa lembaga yang membuat undang-undang ini, dalam tahun ini saja mungkin sudah terdapat 3 atau lebih kasus dugaan KKN yang melibatkan anggotanya. Bahkan yang paling ekstrim terdapat kasus yang dalam persidangan memperdengarkan suara percakapan sang anggota parlemen meminta wanita untuk menemaninya.

Mungkin lebih menyakitkan lagi dalam lembaga eksekutif negara ini. Lembaga yang dipimpin oleh Presiden SBY ini sangat gencar menegakkan keadilan dan mendukung sepenuhnya program pemberantasan KKN di negara ini. Tapi ironisnya, berita yang masih segar di bulan kemerdekaan ini 2 anggota menteri di bwah Presiden SBY ini diberitakan terlibat kasus dugaan korupsi. Memang masih berstatus terduga, belum terbukti benar atau tidak.

Itu hanya sebagian kecil penyebab luka di wajah bangsa ini, mungkin masih banyak lagi penyebab luka yang lain yang masih tidak diketahui gejalanya. Terus apa yang sebaiknya kita perbuat untuk mengobati luka tersebut?

Betapa indahnya bangsa ini jika semua elemenn menjalankan tugasn sesuai dengan fungsinya. Mungkin dengan cara mulai dari diri sendiri untuk mengobati luka di wajah bangsa ini. Kita yang notabene adalah pelajar mempunyai tanggung jawab juga untuk memperbaiki citra bangsa ini. Paling tidak dengan menjalankan tugas kita sebagaimana fungsi kita sebagai pelajar, dan kalau bisa membuat terobosan-terobasan baru yang bisa menggebrak dan membuat mata dunia tercengang bahwasanya Indonesia itu mempunyai sesuatu yang lebih dari sekedar luka di wajah.

Kekuatan yang kecil jika dipupuk bersama akan menjadi kekuatan yang besar pada akhirnya, dan semoga kekuatan itu bisa memperbaiki citra bangsa ini.
Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-63 dan Selamat memperingati 100 tahun Hari Kebangkitan Indonesia. Bukan untuk sekedar diperingati, tetapi juga untuk dilaksanakan.

Tambahan dari penulis, jangan pernah sekalipun menghilangkan rasa nasionalisme kita, jangan pernah malu dengan bangsa kita, walaupun keadaan negara kita dalam kondisi yang tidak bagus. Bangsa kita ini perlu terus dijaga dan dirawat sehingga penyakit wajah itu bisa segera sembuh dan bau tidak sedapnya bisa kembali wangi. Indonesia satu, dari kita, oleh kita, untuk kita.


2 Responses to “Mengobati Luka di Wajah Indonesia”

  1. dol… salut la rin liat doli.. Walopun sukanya orens, tp jiwa doli merah-putih kali.. :D
    salut, nasionalisme doli tinggi bgt. Rin jrg bgt b’fkr sbg individu Indonesia yg mesti memperjuangin bangsa kita ni..
    ayuk lah klo gitu… bagus2in Indonesia tercinta.. :D

  2. Kalo programmer yg korupsi pernah ada kasusnya ndak?

Leave a Reply

« (Maap) “Emansipasi” wanita perlu atau enggak ya? Balicamp | 1st day JAVA + SOA training Batch XII »