Penyetaraan Ijazah Luar Negeri oleh DIKTI terkesan aneh
Setiap mahasiswa yang sedang belajar di luar negeri, khususnya negera persemakmuran Inggris (Malaysia, Australia, dll), yang menganut sistem pendidikan Inggris, biasanya selalu dihadapkan dengan permasalahan dan ketakutan bahwa pendidikan S1 yang mereka ambil hanya akan dianggap D3 oleh DIKTI. Itu memang nyata, dan sudah terbukti sampai sekarang ini. Semua lulusan yang bergelar Bachelor walaupun ada embel-embel WITH HONOURS sebagian akan disetrakan sebagai D3, tetapi ada juga yang disetarakan S1.
Itu menjadi pertanyaan saya, setelah saya melihat-lihat di website http://evaluasi.or.id yang tertera untuk universitas saya, Universiti Utara Malaysia, dengan program yang sama dan gelar yang didapatkan sama, Bachelor Information Technology with Honours, dua orang SHERLIA ARLIATY dan MUHARMAN LUBIS, bisa mendapatkan penyetaraan yang berbeda.
Kasus ini membuat saya penasaran dan saya mengangkatnya dan menulisnya di Guest Book http://evaluasi.or.id yang juga ditanggapi oleh beberapa teman dari Monash University Melbourne. Berikut tulisannya.
Pengirim: Doli Anggia Harahap
Medan( 11 Maret 2009, 02:08:13)
Pesan / Komentar:
Assalamualaikum Bapak/Ibu,Saya ingin bertanya mengenai penyetaraan ijazah untuk tamatan luar negeri. Saya tamatan dari Malaysia dan ingin menyetarakan ijazah.
Beberapa waktu lalu teman saya satu angkatan menyetarakan ijazahnya dan hanya mendapatkan penyetaraan setaraf D3 oleh DIKTI dengan gelar yang dia sandadang adalah Bachelor of Information Technology wih Honours, begitu juga saya.
Adapun senior kami beberapa tahun lalu, dengan lulusan universitas Malaysia yang sama, jurusan yang sama dengan gelar yang sama mendapatkan penyetaraan setaraf S1 oleh
Yang ingin saya tanyakan, sebenarnya apa standar perhitungan untuk membedakan S1 dengan D3 untuk lulusan dari Malaysia?Saya ingin menyetarakan ijazah saya untuk setaraf S1. Karena arahan dari pihak Kedutaan melalui Atase Pendidikan disana, seharusnya taraf pendidikan yang kami sandang adalah SAMA dengan S1 di Indonesia.
Adakah penjelasan untuk ini? Terima Kasih atas perhatiannya.
Tanggapan:Thio
Medan( 13 Maret 2009, 14:52:52)
Embok Gia gimana ini? kalau tak salah pertanyaan ini sudah pernah dimunculkan pada tgl 5 Maret tapi tak dapat tanggapan dari Dikti.Sebenarnya yang menjadi standar untuk membedakan S1 dan D3 luar negeri sih gampang, termasuk akreditasi ( recognition of International )University tersebut, system perkuliahnnya, jumlah SKS yang diambil untuk gelar itu, program dan mata kuliah apa sesuai dengan gelar itu dsb. Aneh dalam praktek penyetaraan Dikti kita memberi kesan asal2an, sorry saya jadi buruk sangka apakah sebenarnya anak buah unqualify yang bekerja, kepala team yang profesional karena kesibukan hanya teken aja. Bayangkan berasal dari Uni dan Jurusan yang sama, sementara yang graduated with honours disetarakan dengan D3, yang biasa2 aja justru berezeki dapat disetarakan dengan S1. That means the world maybe crazy especially in our Ditjen Dikti Jakarta. Teringat saya nenekku pernah cerita dizaman beliau Ba itu artinya SARJANA MUDA yaitu D3 kita. Apakah Dikti punya pegawai setua nenekku? kok belum pensiun ya? nenekku sudah berusia 80 tahun dan giginya sudah ompong semua! kalau ya Dikti terima pegawai super tua, nenekku ingin lamar! berikan beliau kesempatan melamar donk! Bapak/Ibu Dikti yang murah hati, dari pada nenekku tiap hari kerjanya ngelamun ngeluh gak bisa lewat waktu, too much waktu nganggur tak baik buat kesehatan nenekku. Biarlah beliau sana bantu setarakan ijazah luar negeri, kan tak sulit, nampak Bachelor langsung cap D3 aja. Saran saya Gia sebaiknya sering muncul di kolom komentar ini, repeat2 same question juga no problem. Supaya salah satu staff yang tugasnya menyetarakan ijazah Gia able to keep your name in mind,kelak begitu nampak langsung disetarakan dengan S1, pepatah mengatakan gak kenal maka gak sayang, right? kalaupun ternyata kesialan disetarakan dengan D3, don’t be sad, you are not the first, itu sudah sering kejadian. Langsung aja ambil Master ke luar negeri,program Master overseas 1 1/2 thn sudah bisa selesai. Kalau terhadap Master Degree, Ditjen Dikti tak pernah stingy, asal University itu terakreditasi International, langsung diproses dan terbitlah SK yang setarakan Master anda dengan S2 sini.Solusi Ini yang sering dipakai Bachelor luar negeri yang kebetulan sial disetarakan dengan D3. Kebanyakan mereka pikir mau complain ke mana? habis tenaga berteriak mengatakan ini unfair pun tak mungkin terdengar Bapak Dirjen Dikti kita. Atau kalau gak mau lanjut ke Master, apply aja ke perusahaan swasta yang tak bermasalahkan Bachelor dengan S1, bagi swasta sama aja degree ini, cuma tak bisa ke Government Jobs termasuk BUMN/BUMD, karena mereka akan minta lampirkan SK Dikti tentang kesetaraan ijazah luar negeri. Antara S1 dan D3 pangkatnya sungguh jauh, kita ini sangat dirugikan kalau apply job ke Government field bila disetarakan dengan D3. Good luck to you, Wasalam dari Thio di Medan.
Tanggapan:Dinul
Medan( 13 Maret 2009, 20:48:21)
Walaikum Salam, Gia dan Thio di Medan, saya Dinul juga dari Medan. Tertarik untuk ikut diskusi topik yang kalian bicarakan. Sebenarnya standar yang paling gampang untuk membedakan degree Bachelor luar negeri itu setara D3 atau S1 Indonesia bisa dengan cara:
( 1 ) Berapa SKS yang diperoleh untuk mencapai degree itu? karena SKS (total credit) harus setara dengan sarjana sini, kalau tak salah 144 SKS. kalau kurang dari itu bisa aja disetarakan dengan D3.
( 2 ) Coba check ke salah satu Overseas University yang terakreditasi International, apakah Bachelor ini bisa terus ke Master program mereka gak? kalau no problem itu tandanya S1 karena D3 tak mungkin bisa lanjut ke Master.Bisa di check via email, fax, tel atau agen mereka di Medan seperti kalau Malaysia bisa check ke Global Total, Australia bisa check ke IDP Australia Centre. kalau mau sambung ke Universitas negeri yang tak ada agen di sini, via email aja paling 1 atau 2 hari sudah dapat jawaban.
Sebenarnya gak ada perbedaan yang signifikan antara program D3 dan S1, system, kurikulum dan content mata kuliah hampir sama. Lamanya kuliah tak bisa jadi patokan karena S1 bagi yang cepat bisa selesai dalam 3 tahun. Jadi di Indonesia umumnya dari jumlah SKS yang membedakan D3 dan S1. Ada juga sekolah program D3 nya lebih titik beratkan praktek dari teori contohnya akademi perawat, AMIK dll supaya bisa langsung kerja begitu tamat. Seperti yang Thio sebutkan, adalah sangat rugi dalam apply pekerjaan kalau status degree kita D3 terutama lamar ke kantor pemerintahan, pangkat D3 jauh lebih rendah dari S1 kalau tak salah D3 itu pangkat golongan 2B sedangkan S1 pangkat golongan 3A. Dari 2B ke 2C butuh 4 thn, 2C ke 2D 4 thn, 2D ke 3A 4thn, bayangkan kalau teman2 Gia yang berasal dari satu Uni dan satu jurusan, yang Honours dapat D3 sedangkan yang lebih bodoh disetarakan S1, seandainya sama2 diterima di kantor pemerintahan yang sama, wah, kasihan yang D3 ini, ketinggalan 12 tahan hanya karena human error. Gak tahu bagaimana cara kerja Dikti? saya juga korban penyetaraan, wisuda Oktober tahun lalu di Monash University, Melbourne. Jumlah SKS saya 144, sudah dapat Offer letter dari Monash U untuk intake awal bulan ini tapi sudah saya cancel karena faktur resesi global.Karena ingin jadi PNS bulan lalu saya ke Dikti untuk setarakan degree. Tak sangka dapat D3 pada hal segala persyaratan S1 terpenuhi ! Kasihan ibuku, karena beliau yang paling berat memikul selama kami( saya dan abangku )kuliah. Mungkin anda akan bertanya, kenapa gak kerja part-time untuk meringankan orang tua sewaktu kuliah di Melbourne (3 1/2 thn)? Gia dan Thio, itu cobaan buat kita yang beragama Islam, kerja part-time di sana rata2 di restaurant, memang upah sangat tinggi per hour bisa mencapai AUD 15-16, namun kita akan kehilangan waktu Zhuhur atau Ashar terutama Magrib.Kalau sudah menetap berbulan bahkan bertahun di sana tentu bukan musafir tak mungkin kita bisa jamakkan shalat kita, yang bisa rutin laksanakan paling Subuh dan Isa. Itupun berbahaya,karena kalau kerja malam pulang dalam kondisi terlampau capek bisa kelewatan Subuh. Antara berpenghasilan dan Ibadah, orang tuaku pilih lebih baik mereka banting tulang di Medan untuk biayai uang sekolah kami dari pada kami kerja lantas rusak ibadah.Sekarang mereka sudah tua, namun mereka masih ingin saya lanjut ke jenjang Master, kuliah dalam negeri sudah terbentur D3 Dikti ini, mudah2an Allah SWT memberi petunjuk kearah mana saya harus melangkah.amin. Wassalam dari Dinul Medan.
Tanggapan:Ikhsan
Melbourne( 14 Maret 2009, 06:35:14)
Dear Admin Ditjen Dikti,
Hope DITJEN DIKTI INDONESIA will take note and reply to Dinul degree’s case, because his case is genuine from a WELL-KNOWN and WORLD RECOGNISED UNIVERSITY.Further more he only plead for FAIRNESS from his “DEGREE” and nothing more. Please kindly pass this message to Prof.DR.Fasli Jalal, Dirjen Dikti Diknas RI.
Thanks and best regards from Ikhsan, one of Monash University alumni.
Tanggapan:Ikatan Mahasiswa Muslim Monash Melbourne
Melbourne, Victoria( 15 Maret 2009, 10:54:36)
Assalam Mualaikum W.W.
Yang terhormat,
Bapak Prof. Bambang Sudibyo/Menteri Pendidikan Nasional RI
Bapak Prof.DR. Fasli Jalal/Dirjen Dikti Diknas RI
Bapak Direktur Akademik Urusan Luar Negeri
Bapak Kepala Seksi Penilaian Ijazah luar negeri
Bapak/Ibu Admin
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Ditjen Dikti
Di Senayan Jakarta,
Dengan hormat,
Kami, beberapa Mahasiswa Indonesia yang pada saat ini sedang mengikuti kuliah program Bachelor of Arts di Monash University, Melbourne, Victoria, Australia ingin memberikan sedikit tanggapan terhadap kasus penyetaraan degree Bachelor Of Arts ( Politics, Communication ) senior kami Dinul Fiktri Anchan yang disetarakan dengan D3 ( Sk Dikti no. 0494 tgl 27-02-2009 ):
Di Monash College tak ada Diploma of Arts (setara D3) yang berprogram Political Science/International relation. Program ini hanya terdapat di Monash University, Melbourne. Bachelornya dengan SKS sebanyak 144 equal dengan S1 negara kita. Berhubung kami sekarang sedang di jurusan yang sama seperti sdr Dinul dengan keyakinan bahwa apa yang sedang kami ikuti adalah program S1 maka melalui kolom tanggapan ini kami memohon dengan segala kerendahan hati agar diberi penjelasan :
(l) Apa yang menjadi landasan penyetaraan ijazah luar negeri yang menentukan degree itu D3 atu S1? Sayang Sdr Doli A Harahap dari Medan tidak sebutkan nama Universitynya di Malaysia.Kami sangat ingin penjelasan mengapa temannya yang Bachelor of Information System (Hons) yang diambil sesuai dengan arahan atase Kedutaan di Malaysia hanya disetarakan D3?
(2) Mengapa senior kami Dinul F Anchan yang sudah selesai program Bachelor of Arts ( double major in Politics, Communication ) dengan jumlah SKS sebanyak 144 tanpa pernah fail, sudah dapat offer letter untuk melanjutkan ke jenjang Master of Arts hanya disetarakan dengan D3 di Indonesia kita? hal ini sangat penting kami ketahui karena menyangkut masa depan kami. Dari penjelasan Bapak2 bisa kami menentukan sikap ke arah mana kami akan bergerak ke depan.
Demikian permohonan kami, mohon kesudian Bapak2 Dikti Diknas RI untuk memberi tanggapan.Seandainya ada kesalahan atau kekhilafan baik kata maupun sikap dalam membuat surat ini, kami mohon maaf sebesar-besarnya.
Wassalam dari: Ikatan Mahasiswa Muslim Monash Melbourne.
Tanggapan:Lisa
Malaysia( 15 Maret 2009, 11:18:55)
I am in USM Malaysia, feel most sad and disappointed to learn our Education Ministry treats Monash University degrees as inferior to local Indonesia Universities degrees. Feel funny this is peculiar to happen in our Education world. For long time, until recently, Malaysia local Universities view foreign degrees from UK, Australia, NZ, Ireland US etc as inferior to local universities. Never imagined our Country hold same view too.Lisa,Malaysia.
Disitu mas Dinul mengatakan ada peraturan tidak tertulis (Atau tertulis, kalau ada saya minta peraturannya) yang mengatakan untuk membedakan hanyalah jumlah Unit/Credit Hours/SKS dari program yang pendidikan. Untuk bisa disetarakan sebagai S1 “katanya” harus mencapai SKS minimal 144. Saya hanya merasa itu peraturan aneh kalau memang benar-benar tertulis, tetapi kalaupun memang benar adanya tertulis, saya ikhlas ijazah saya yang hanya 114 SKS dengan gelar Bachelor of Information Technology with Honors itu hanya dianggap D3. Saya hanya ingin bertanya mengenai peraturan dan aturan main yang jelas dan memang sudah diatur oleh Undang-Undang.
Dalam hal ini, biasanya orang-orang akan berkata, “sudah, lanjutkan saja lagi kuliah S2 di negara tempat kamu S1 tersebut, selesai perkara, toh semua gelas Master diakui di Indonesia”. Oke, masuk akal. Tapi tidak untuk orang yang memang bercita-cita ingin menjadi PNS, atau ingin melanjutkan program S2 di Univeristas di Indonesia, atau juga untuk orang yang kurang mampu tamatanĀ S1 di luar negeri yang didapatkan melalui program beasiswa dan tidak sanggup untuk melanjutkan S2, apakah beliau ini juga harus menanggung gelar D3????
Bagaiamana pihak-pihak pendidikan Indonesia menjawabnya?



Sebetulnya peraturan tentang penjenjangan Diploma dan Sarjana sudah jelas, setahu saya mengacu ke Kepmendiknas 232/U/2000, antara lain di Bab III dijelaskan tentang beban dan masa studi:
Pasal 5:
- Sarjana: 144 - 160 sks, dijadualkan 8 semester setelah pendidikan menengah.
- Magister: 36 - 50 sks, dijadualkan 4 semester setelah pendidikan sarjana.
- Doktor:
-> bagi lulusan magister sebidang: minimal 40 sks dijadualkan 4 semester.
-> bagi lulusan magister tidak sebidang: minimal 52 sks, dijadualkan 5 semester.
-> bagi lulusan sarjana sebidang: minimal 76 sks, dijadualkan 8 semester.
-> bagi lulusan sarjana tidak sebidang: minimal 88 sks, dijadualkan 9 semester.
Pasal 6:
- Diploma I: 40 - 50 sks, dijadualkan 2 semester.
- Diploma II: 80 - 90 sks, dijadualkan 4 semster.
- Diploma III: 110 - 120 sks, dijadualkan 6 semester.
- Diploma IV: 144 - 160 sks, dijadualkan 8 semester.
Dari kutipan peraturan di atas, mungkin cukup jelas alasannya jika seorang Bachelor of Information Technology with Honors lulusan USM dianggap hanya D3 dengan melihat beban studi yang 114 sks, karena beban studi untuk jenjang D3 memang antara 110 sampai 120 sks.
@Ki Syafrudin
Yaitu..peraturan aneh..
hanya berlaku di Indonesia..
Besok2 kalo negara luar menolak lulusan S1 Indonesia untuk nyambung kuliah S2 di luar baru kapok..
Malaysia udah punya isu2 seperti itu..akibat banyak lulusan Bachelor di Malaysia banyak yg cuma dianggap D3..
Ada juga yang bilang, anak2 yg kuliah di Malaysia hanya karena ga lulus SPMB/UMPTN ato apalah namanya..
Sombong bener yang ngomong gitu..
Ayok lah adu ilmu..
saya Sulthon Sjahril, saya juga ingin ikut nimbrunk …. saya juga lulusan Bachelor of Commerce dari University of Wollongong, Australia hanya mendapat D3 di Dikti, Padahal sebelumnya saya kuliah di Thailand, Assumption University dan udah kuliah banyak juga disana, tapi karena pindah ada sekitar 30% dari mata kuliah tersebut tidak diterima di Uni of Wollongong, padahal kalo di total yaa melebihi 144 SKS kali ya … juga … Bachelor saya totalnya 144 sks PLUS yg tdk ke transfer waaahh … kelebihan banget …. BINGUNG NIH … orang DITJENnya sangat tidak memperhatikan kasus2 seperti ini.
Jadi dengan kepaksa saya harus ambil S2 di luar negeri (Padahal ada niat juga utk kuliah dlm negeri kala itu), untung aja ada biaya … tapi pada waktu yg bersamaan DIKTI memaksa kita utk mengeluarkan dana lagi utk sekolah luar negeri … terjadi pengeluaran devisa padahal dulu sempat kepikir mau kuliah di UI misalnya.
Saya heran kerjaannya di bagian ditjen urusan ijazah luar negeri itu apa ya? Padahal ini udah dari DULLLUUUUUU terjadi … yg HEBAT DIAAMM AYEMMM semua … seolah2 komen tidak terdengar semua … seharusnya sih yg lebih baik KITA yg jadi korban ini harus ramai2 bersatu dan buat suatu forum … utk mensosialisasikan keanehan ini .. agar kelak junior2 kita yg kuliah S1 khususnya nggak SAKIT HATI pas pulang …
YG gw tahu sih, feeling aja ya … staf2 di depdiknas yaa mungkin nggak pernah/ada kuliah S1 di luar negeri . Jadi belum ada korban, yg makan tuannya sendiri… kalo ada mungkin yaa ceritanya beda,
Maaf, baru sekarang nengok halaman ini lagi.
Saya mengutipkan peraturan sebagai fakta untuk diperhatikan oleh siapa saja, bukan sebagai pembelaan bagi orang Dikti, karena saya juga ada kepentingan kuliah di luar negeri.
Meski saya sendiri termasuk yang tidak setuju terhadap syarat 144 SKS, namun mengenai pendapat bahwa peraturan itu aneh, menurut saya di luar negeri juga ada peraturan serupa.
Seperti Deklarasi Bologna di Eropa :
- Bachelor degree: 3 - 4 tahun, 180-240 ECTS credit.
- Master degree: 1,5 - 2 tahun, 90-120 ECTS credit.
Di Inggris Raya:
- Foundation degree: 240 CATS
- Bachelor degree: 300 CATS
- Bachelor (Honour) degree: 360 CATS
Di Selandia Baru:
- Bachelor degree: 3 tahun, 360 credit.
- Bachelor degree (profesional): 4 tahun, 480 credit.
- Bachelor (Honour) degree: tambahan +120 credit termasuk 30 credit untuk penelitian.
- Master degree: 1 - 2 tahun, 120 - 240 credit.
setiap negara memang ada peraturan atau standarisasi jumlah SKS berdasarkan sistem masing2 negara, bagi negara2 maju saya yakin mereka memberlakukan standarisasi SKS sudah berlaku dengan proporsional dan melihat bobot materi yang di berikan, tapi di indonesia menurut saya yang emang keterlaluan
kebetulan saya kuliah di indonesia dan mengambil international undergraduate program, banyak mhs luar yang sempet jadi teman saya bbrp semester, terutama dari australia. bobot sks mereka emang lebih rendah daripada kita, hanya kepadatan dan kualitas materi jauh mengungguli kita!, mereka efektif dan efisien, kalau bisa 114an sks kenapa harus sampai 144 sks?? DIKTI kita cuma berpijak sama ANGKA SKS tanpa ada peninjauan terhadap kualitas yang di berikan, kalau menurut saya, dari segi kulitas peraturan yang ada justru malah terbalik…S1 indonesia setara D3 luar! melihat kualitas yang saya terima sebagai mahasiswa indonesia.
Indo punya lebih banyak SKS karena ada pelajaran yg tidak berhubungan seperti agama, ppkn dan bahasa asing. Dimana mata kuliah ini tidak wajib di LN
Wah, jadi mikir beberapa kali mo sekola ke negara sebelah… nanti anakku gimana ya kalo serba gak jelas gini
faktor2 lain yg mungkin dapat jd masukan untuk dikti dalam melakukan ‘penyetaraan’ ijazah luar negeri:
1) kuliah di indokan bisa nyontek!! skripsi tinggal tanya senior dehh, dosen di indokan menilai tugas2 hanya matasatu; satu kelas satu jawaban. kl ‘kuli’ diluar mau nyontek sm siapeee!!! mungkee gileeee kl ga ngandelin otak sendiri. bedanya kl di indo susah bedain yg bego sm yg pintar (kemampuan akademis tiap2 individukan beda), di luar yg bego bisa lebih maju. palagi yg IQ tinggi..
2) Yg menentukan kualifikasi seseorang adalah instansi si pencari tenaga kerja. so simple… menurut gw kurang fair n unnecessary a.k.a ’stupid’ apa yang dilakukan oleh dikti. Toh ga ada bedanya jika semua bachelor semua setara s1..tes psikologinyakan sama.. bersaing secara sehat dong!! jangan main hakim sendiri..
3) sebenarnya sangat mudah untuk memperjelas ttg kriteria penilaian dikti..jika hasil evaluasi dikti yg di umumkan di web tercantumkan gelar yg diberikan oleh universitas luar negeri tersebut (misalnya BSc. BSc (HONS), BComm, BComm (HONS), MSc, MSc (HONS), PHd (HONS) etc.). ini sebenarnya di catat di undang2 tetapi entah alasannya.. dikti hanya mencantumkan program studi dan jenjang penyetaraan. maksudnya biar jelas yg mana yg jenjangnya d3 atau s1
begitulah negeri ini yg msh memberlakukan hukum rimba. dimana lulusan luar negeri BSc. dr univ kelas dunia bisa di jadikan D3…reformation my ass!!
Gak ambil pusing
wempi hanya lulusan dalam negeri. xixixi
Wah, parah juga syaratnya.Ya udah deh, jadi warga asing aja sekalian. Dinegara sendiri aja ga dianggab.