• Home
  • doliharahap?
  • Formulir Kontak
  • OpenCV
  • RSS

header tusuktusuk.jpg

Category: Kritik Sosial


Dilemma MUI di Lingkungan Rakyat yang Pintar

Filed Under: Kritik Sosial, umum by admin — Leave a comment
August 7, 2010

Seorang teman bernama Muharman Lubis, menuliskan artikel yang sangat menarik di facebook-nya. Mengenai peranan MUI di Indonesia sekarang ini. Saya juga sebenarnya sudah merasakan hal yang sama belakangan ini, ingin menuliskan tetapi tidak sempat. Berikut artikel yang dia tuliskan, saya post di sini atas ijinya.

Sungguh miris rasanya ketika membaca komen mengenai banyaknya opini2 negatif ttg MUI seperti bubarkan saja MUI, MUI adalah lembaga bentukan orde baru, tidak percaya ama MUI, bodo amat ama MUI dan beberapa komen yg memojokkan legitimasi MUI. Hal ini terjadi sebagai implikasi banyaknya fatwa2 yg meresahkan dan membingungkan masyarakat, seperti fatwa “Haram merokok” oleh PP Muhammadiyah (2010), fatwa “Haram mengucapkan selamat natal” oleh MUI (1981), fatwa “Haram Facebook” oleh Pondok Pesantren Putri Mubtadi-aat, Lirboyo (2009), fatwa aliran sesat Syiah (1983) Ahmadiyah (1980/2005) oleh MUI, fatwa “Haram Infotainment” oleh PBNU (2006), fatwa “Haram Mengemis” (2009) oleh MUI Sumenep, fatwa “Haram Golput” (2009) dan banyak fatwa2 lainya,, belum lagi beberapa fatwa2 yg dkeluarkan dinegara2 luar sprti Malaysia, Arab Saudi, Mesir dan lain lain.. yg semakin meresahkan masyarakat, dtambah dgn pandainya PERS memanfaatkan momen tersebut.

MUI sendiri memiliki sejarah yg sangat panjang yg berdiri pada tanggal 26 Juli 1975/ 7 Rajab 1395 sebagai hasil musyawarah para ulama dan cendikiawan antara lain meliputi dua puluh enam orang ulama yang mewakili 26 Propinsi di Indonesia, 10 orang ulama yang merupakan unsur dari ormas-ormas Islam tingkat pusat, yaitu NU, Muhammadiyah, Syarikat Islam, Perti. Al Washliyah, Math’laul Anwar, GUPPI, PTDI, DMI dan al Ittihadiyyah, 4 orang ulama dari Dinas Rohani Islam, AD, AU, AL dan POLRI serta 13 orang tokoh/cendekiawan yang merupakan tokoh perorangan. MUI sendiri memiliki sekitar 11 komisi yg salah satunya adalah Komisi FATWA yg terdiri dari bidang Aqidah dan aliran keagamaan, bidang ibadah, bidang sosial dan budaya, bidang pangan obat2an dan IPTEK. Secara logika dan historis tdk bs dnafikan bahwa lahirnya MUI adalah atas semangat bersama ORMAS Islam di Indonesia demi persatuan dan kesatuan bangsa dlm membimbing umat menghadapi masalah2 sosial.

Kalau kita menilik dari definisi FATWA itu sendiri, ianya adalah jawaban mufti terhadap masalah keberagamaan yg diajukan oleh perorangan/lebih dan tdk mempunyai kekuatan yg memaksa, sehingga statusnya sangat berbeda dgn vonis atopun hukum, kecuali dgn syarat2 tertentu dmana adanya persetujuan (consensus) bersama antara para ulama (ijma’) yg merupakan sumber hukum ketiga setelah Al-Qur’an dan Sunnah. Kesepakatan ulama pun boleh berubah tergantung banyak faktor seperti lingkungan, validitas data, teknologi dan lain-lain..

Lantas yg jd persoalan adalah kenapa imej MUI dmasyarakat dewasa ini sangat buruk, apakah krn MUI tdk kompeten dlm melaksanakan tugasnya (khususnya FATWA) ato masyarakat merasa tdk perlu akan kehadiran MUI krn mereka sdh lbh tahu dan pintar dri MUI itu sendiri. Seringkali yg terjadi di masyarakan setelah MUI mengeluarkan fatwa adalah respons negatif, tanggapan yg tdk sopan serta kritik2 pedas yg harusnya lbh dcermati dahulu. Atas dasar apa kita menafikan ato menolak suatu fatwa tersebut?? kebanyakan org akan menjawab yaitu berdasarkan akal dan pikiran. Argumentasi yg bagus dan bsa dterima oleh khayalak umum, tetapi perlu dbuktikan dulu kebenarannya, sprti kasus dlm teori gravitasi yg berhubungan dgn SAINS ini; Apakah masuk akal pernyataan ini klo kita berusaha mencermatinya dgn akal pikiran semata;

“suatu benda yg memiliki berat yg berbeda2, let’s say A=10kg B=100kg maka kedua benda tersebut akan memiliki kecepatan yg sama apabila dijatuhkan“,

tentu tidak logik bukan; tetapi brdskan hukum Galilleo maka pernyataan tersebut menjadi masuk akal (logik), akan tetapi menurut hukum gravitasi Newton kedua benda tersebut akan jatuh berbarengan tetapi percepatannya sdkt berbeda sehingga tdk tertangkap oleh mata (msh bener), lantas klo kita membahas dgn teori relativitasnya Einstein akan terlihat perbedaan yg mencolok krn teori ini tdk sesuai dgn teori Newton yg tdk menjelaskan pengaruh gelombang elektromagnetik, dn kmudian dlm perkembangannya teori kuantumnya Planck menjadi pedoman dlm membahas ketepatan ukuran dlm masalah gravitasi, dr kasus ini bs kita simpulkan kelogikan suatu akal pikiran dlm beberapa kasus selalu merujuk kpd teori2 dasarnya, meskipun pada perkembangannya akan selalu berubah2 seiring dgn kemampuan manusia yg smakin bertambah..

Semua teori yg dhasilkan tersebut tetap saja tetap tdk menjadi kebenaran yg mutlak walaupun sdh melalui proses research (ijtihad) yg sangat intense (keras). Cth lain adalah teori Darwin ttg evolusi berdasarkan seleksi alam (natural selection), kmudian teori evolusi Mendel ttg genetik (inheritance) yg menyanggahnya sampai teori synthesis yg dpelopori oleh Fisher membawa kemajuan biologi ttg keberadaan DNA menerangkan kekurangan dlm teori mendel; jadi kl lah persoalan penyanggahan fatwa MUI hanya melibatkan akal semata maka hal tersebut bs dkategorikan sebagai tindakan yg sangat sembrono, karena berdasarkan 2 cth di atas saja telah terjadi beberapa perubahan utk penjelasan fenomena2 sama dan serupa tetapi dgn teori2 yg berubah2, masalah sosial jg tdk lepas dr perubahan ini seperti sejarah panjang demokrasi yg mengikuti perkembangan jaman.

PP Muhammadiyah mengeluarkan fatwa haram merokok dgn alasan/dalil pada surat Al a’raf 157, An Nisa 29, Al Isra 26-27, dll..

(http://nasional.vivanews.com/news/read/136276-enam_dalil_fatwa_haram_rokok).

Kemudian masyarakat sangat resah dan bingung, terutama buruh dan petani tembakau yg dlm posisi hidup dan mati. Persoalan tersebut kemudian dmanfaatkan oleh sebagian org yg liberal atopun pihak2 yg berkepentingan utk mendeskreditkan legalitas MUI; pdhl persoalan para buruh dan petani tembakau tersebut bs kita samakan (qiyas) dgn kondisi seseorang yg sangat kelaparan di suatu hutan dan ternyata makanan yg bs dmakan hanya seekor BABI, maka hal tersebut dbolehkan; ato ketika seorang muslim tdk bs menemukan air utk wudhu’ maka dperbolehkan tayamum; ato ketika kita kesulitan dan tdk mampu solat dgn berdiri tegak maka boleh duduk dan seterusnya berbagai kemudahan yg dberikan oleh Islam brdsrkan kondisi2 tertentu. Sehingga ketika kita tdk setuju akan suatu fatwa (nasihat/jawaban) maka hendaknya kita meminta kejelasan kepada seorang yg lbh paham dgn dsertai oleh dalil2 dari Alquran dan Sunnah sebagai sumber hukum kita yg utama alih2 lsg mengecam ulama dgn mengatakan mereka bodoh dan sebagainy tp pada kenyataannya mgkn malah sebaliknya. Karena diskusi tersebut tetap memerlukan suatu TEORI yg melandasi keluarnya suatu argumen dan proses diskusinya hendaknya jg menggunakan parameter yg sama.

Meminum bir, tuak dan minum2an memabukkan lainnya adalah haram, lantas muncul pertnyaan; “Bagaimana jika ada org yg minum tp tdk mabuk, maka hal tersebut boleh dunk?“. Suatu hukum jelas melihat kepentingan umum ato org banyak, sdh menjadi standarisasi bahwa dominan/mayoritas org ketika meminum bir, tuak, khmr, minuman beralkohol lainnya pst bakal mabuk sehingga dgn mempertimbangkan kepentingan org banyak maka apapun namanya kl sdh termasuk kategori memabukkan maka akan menjadi haram krn dpt merugikan kepentingan umum bgitu jg dgn rokok, kecuali ada sanggahan brdskn data2 akurat bahwa hal tersebut di dlm komunitas tempatan ternyata tdk membahayakan sama sekali, Klo dlihat dari sisi sejarahnya rokok pada awal penyebarannya dtimur tengah terutama Turki dkategorikan makruh, krn dqiyaskan dgn bawang yg mengeluarkan bau2an tdk sedap, tetapi kemudian seiring berkembangnya jaman, segala sesuatu pun menjadi berubah terutama dlm teknologi dan kita harus ikt memperhatikan hal tsbt.

Perbedaan2 fatwa antara satu negera dgn negera lainnya pasti bakal terjadi seperti larangan yoga di Malaysia, beberapa ulama Saudi juga melarang perempuan memakai “bra” dan sepatu hak tinggi dan mgkn yg plg heboh adalah larangan baju MU musim 2010/2011 di Malaysia dan jg larangan ntn film 2012 tahun lalu di Indonesia. Perbedaan adalah anugerah tetapi perlu dcermati dahulu, perbedaan dlm hal apa? apakah masalah aqidah, maka hal tersebut harus dbetulkan, tdk ada tawar menawar dlm hal itu, seperti Ahmadiyah, syia’h dan jg JIL (yg menganggap smua agama sama) maka hrs dkategorikan sesat tetapi klo dlm masalah fiqh, maka hal tersbut tdk apa, tergantung keyakinan hati kita mantab kemana.

(http://alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatannur&id=549)

Kesimpulannya, perbedaan fatwa mgkn terjadi krn pengaruh kultur, adat istiadat, lingkungan, kebiasaan dan faktor2 eksternal serta internal lainnya; biasanya ulama2 yg mngeluarkan fatwa utk persekitaran mereka saja dgn cakupan wilayah tertentu, sehingga hal tersebut jgnlah menjadikan kita bingung. Kmudian, ketidakmengertian dan ketidakpuasan ttg fatwa hendaknya jgn dhadapi dgn akal pikiran serta mindset negatif semata tetapi hendaknya dgn niat tulus suci demi agama mencari dalil2 Naqli (Al qur’an & Sunnah) yg dperkuat oleh dalil Aqli (Akal & Pikiran) utk menyanggahnya atopun menyempurnakannya, krn sikap seorang muslim adalah menasehati sesamanya dgn cara yg baik dan sopan.

Semoga dgn satu visi yg kuat antara umat dan MUI, kita sama2 membangun dan menjaga islam dari politik pecah belah (namimah) yg berusaha dlakukan oleh pihak2 yg ingn menghancurkan kebersamaan dgn menjelaskan suatu duduk perkara dgn hanya mengambil cth2 separo tetapi tanpa melibatkan teori dan pedoman yg relevance (Al qur’an dan Sunnah) dgn menggembar-gemborkan kepentingan Akal & Pikiran (part of this argument is true, but it’s should be discussed further) dan jg menciptakan mindset yg kontradiktif seperti menyama2kan islam dgn protestan, membesar2kan issue yg sebenarnya bkn tujuan sang pembuat fatwa dll. Hendaknya jg kita mencermati dgn hati yg tenang isi fatwa tersebut secara baik2, tanpa langsung me-generalize-nya ke suatu objek seperti fatwa facebook, yg pd kenyataannya cm lbh kepada tujuan penggunaan facebook itu sendiri dan jg fatwa haram infotainment yg merujuk kepada konten yg bersifat ghibah (aib), fitnah (bohong) dan namimah (adu domba). Saran utk MUI sih sebenarnya simple aja, hendaknya alasan2 serta dalil2 yg menjelaskan suatu FATWA betul2 dshare kpd rakyat, jgn hanya dgn mengatakan banyak dalil2nya, krn hal itu hanya semakin membingungkan rakyat semata. Kl semuanya menjadi transparan dan jelas, saatnya bgi kita utk mendiskusikannya demi kesatuan dan persatuan umat islam.

Dri Nu’man bin Basyir ‘’Sesungguhnya apa-apa yang halal itu telah jelas dan apa-apa yang haram pun telah jelas, akan tetapi di antara keduanya itu banyak yang syubhat (sebagian halal, sebagian haram), kebanyakan orang tidak mengetahui yang syubhat itu. Barangsiapa yang memelihara diri dari yang syubhat itu, maka bersihlah agamanya dan kehormatannya, tetapi barangsiapa jatuh pada yang syubhat maka berarti ia telah jatuh kepada yang haram, misalnya semacam orang yang menggembalakan binatang di sekitar daerah larangan maka mungkin sekalin binatang makan di daerah larangan itu.Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai larangan dan ketahuilah bahwa larangan Allah ialah apa-apa yang diharamkan-Nya (oleh karena itu yang haram jangan didekati)‘’. (Bukhari dan Muslim)

“…Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui“. (an-Nahl: 43)

wallahualam
“Cm Pemikiran Dangkalku”
Muharman Lubis
-07/07/10-

Bahan Renungan:

  • http://v2.icrp-online.org/index.php?option=com_content&view=article&id=84%3Afatwa-dan-fatwa&catid=1%3Akolom&Itemid=4&lang=in (Fatwa)
  • http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Prioritas/Syubhat.html (Subhat)
  • http://blog.adikcilak.com/2009/12/24/hukum-mengucapkan-selamat-natal/ (Natal)
  • http://ebok10.blogspot.com/2007/10/himpunan-fatwa-haram-merokok.html (Rokok)
  • http://www.nahimunkar.com/aliran-sesat-ldii-ahmadiyah-dan-syi%E2%80%99ah-tidak-diundang-kongres-umat-islam/(Syiah dan Ahmadiyah)
  • http://www.mui.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=264%3Aantara-infotainment-ghibah-fitnah-a-namimah&catid=1%3Aberita-singkat&Itemid=50 (Infotainment)

Tambahan dari saya, MUI bukan organisasi asal-asalan, yang saya ketahui itu adalah organisasi yang berisikan orang-orang yang berpendidikan. Biarkan MUI menjalankan tugasnya, karena memang itu kewajiban ulama untuk melindungi umat dari terjerumus ke dalam kebatilan. Semua Fatwa yang dikeluarkan MUI sebaiknya janganlah dicerca, tetapi mari kita telaah bersama. Kalau anda tidak setuju, tidak usah menghujat, anda jalankan apa yang anda rasa benar, tinggal urusan anda dengan Allah.

Semoga artikel ini bermanfaat, and all credit goes to MUHARMAN LUBIS

Salam Berbagi,



Post to Twitter

Tags: Fatwa, Infotaintment, Muharman Lubis, MUI, Rokok
Comment

Status Geo-Location, Koprol atau Foursquare – Informasi Bebas?

Filed Under: Kritik Sosial, internet, umum by admin — Leave a comment
May 28, 2010

Sekarang katanya kita masuk ke jaman serba terbuka. Kode Sumber Terbuka, ada juga yang mau format dokumen terbuka, sampai masuk dalam social network pun semuanya serba terbuka. Linkedin yang memberikan kita kebebasan untuk membuka informasi diri kita dalam bidang akademik dan profesional. Juga sudah pastinya “mainan” seperti facebook dan twitter yang sangat senang jika kita semakin membuka diri. Apalagi sekarang sedang heboh masalah privacy di facebook, sampai seorang zuckerbeg bilang sekarang adalah jaman informasi bebas, data anda adalah milik facebook.

Tapi yang mau saya bahas disini bukan tentang facebook, tapi masalah keterbukaan. Sudah tahu kan social network yang membebaskan kita untuk saling bertukar informasi mengenai lokasi kita? Ya contohnya seperti foursquare atau koprol, yang lagi heboh karena baru saja diakuisisi oleh yahoo, yang membolehkan kita untuk “check-in @PavilionKL habis window.shopping nih sambil nunggu filem iron man 2 jam 7″ Aplikasi seperti ini saya rasa sangat riskan dalam keamanan dunia nyata. Kenapa begitu?

Bagi saya, dengan bantuan aplikasi seperti ini saya telah mengekspos diri saya kepada dunia mengenai keberadaan saya. Alangkah berbahayanya kalau ada orang yang ingin berniat jahat terhadap kita dengan memanfaatkan informasi yang kita sendiri menyebarkannya. Kalau saya tidak salah twitter juga mempunyai kemampuan untuk saling berbagi lokasi. Pernah dengar seorang warga negara US kemalingan karena dia mengupdate statusnya dan menginformasikan bahwa ia hanya sendiri dirumah? Nah, keterbukaan seperti ini yang menurut saya berbahaya.

Intinya, kemajuan dan konsep teknologi sekarang ini dengan serba keterbukaan, ada sisi baik dan sisi buruknya. Kembali lagi semuanya kepada manusia yang menggunakannya. Teknologi akan sangat bermanfaat kalau kita pandai memanfaatkan dan menggunakannya.

Semangat Berbagi !!!



Post to Twitter

Tags: 2.0, facebook, foursquare, geo location, koprol, open information, social network, twitter
Comment

Berapa sih Gaji Papa??

Filed Under: Dunia Kerja, Kritik Sosial, umum by admin — 1 Comment
April 19, 2010

Ini bukan tulisan saya. Sudah minta izin dari temen tapi belum mendapatkan sumber sebenarnya darimana. Kepada penulis pertama saya minta izin untuk berbagi, semoga bisa bermanfaat untuk semua.

Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Sarah, putri pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya. Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.

“Kok, belum tidur ?” sapa Andrew sambil mencium anaknya.

Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.

Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Sarah menjawab, “Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa ?”

“Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?”

“Ah, enggak. Pengen tahu aja” ucap Sarah singkat.

“Oke. Kamu boleh hitung, setiap hari papa kerja 10 jam dan dibayar Rp. 400.000,-. Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja. Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo ?”

Sarah berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Andre w beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Sarah berlari mengikutinya. “Kalo satu hari Papa dibayar Rp. 400.000,-untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp. 40.000,- dong” katanya.

“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur” perintah Andre w. Tetapi Sarah tidak beranjak.

Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian,Sarah kembali bertanya, “Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,- enggak ?”

“Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah”.

“Tapi Papa…”

Kesabaran Andre w pun habis. “Papa bilang tidur !” hardiknya mengejutkan

Sarah.

Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Andrew nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Sarah di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Sarah didapati sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Andre w berkata, “Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Sarah. Tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini ? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp.5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih” jawab Andrew

“Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini”.

“lya, iya, tapi buat apa ?” tanya Andrew lembut.

“Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga. Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, hanya ada Rp.15.000,- tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 40.000,- maka setengah jam aku harus ganti Rp. 20.000,-. Tapi duit tabunganku kurang Rp.5.000, makanya aku mau pinjam dari Papa” kata Sarah polos.

Andrew pun terdiam. ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk “membeli” kebahagiaan anaknya.

“Bagi dunia kau hanya seseorang, tapi bagi seseorang (anak) kau adalah dunianya”



Post to Twitter

Tags: anak, gaji, kebahagiaan
Comment

Penyetaraan Ijazah Luar Negeri oleh DIKTI terkesan aneh

Filed Under: Ilmu, Kritik Sosial, umum by admin — 23 Comments
March 20, 2009

Setiap mahasiswa yang sedang belajar di luar negeri, khususnya negera persemakmuran Inggris (Malaysia, Australia, dll), yang menganut sistem pendidikan Inggris, biasanya selalu dihadapkan dengan permasalahan dan ketakutan bahwa pendidikan S1 yang mereka ambil hanya akan dianggap D3 oleh DIKTI. Itu memang nyata, dan sudah terbukti sampai sekarang ini. Semua lulusan yang bergelar Bachelor walaupun ada embel-embel WITH HONOURS sebagian akan disetrakan sebagai D3, tetapi ada juga yang disetarakan S1.

Itu menjadi pertanyaan saya, setelah saya melihat-lihat di website http://evaluasi.or.id yang tertera untuk universitas saya, Universiti Utara Malaysia, dengan program yang sama dan gelar yang didapatkan sama, Bachelor Information Technology with Honours, dua orang SHERLIA ARLIATY dan MUHARMAN LUBIS, bisa mendapatkan penyetaraan yang berbeda.

Kasus ini membuat saya penasaran dan saya mengangkatnya dan menulisnya di Guest Book http://evaluasi.or.id yang juga ditanggapi oleh beberapa teman dari Monash University Melbourne. Berikut tulisannya.

Pengirim: Doli Anggia Harahap
Medan( 11 Maret 2009, 02:08:13)
Pesan / Komentar:
Assalamualaikum Bapak/Ibu,

Saya ingin bertanya mengenai penyetaraan ijazah untuk tamatan luar negeri. Saya tamatan dari Malaysia dan ingin menyetarakan ijazah.
Beberapa waktu lalu teman saya satu angkatan menyetarakan ijazahnya dan hanya mendapatkan penyetaraan setaraf D3 oleh DIKTI dengan gelar yang dia sandadang adalah Bachelor of Information Technology wih Honours, begitu juga saya.
Adapun senior kami beberapa tahun lalu, dengan lulusan universitas Malaysia yang sama, jurusan yang sama dengan gelar yang sama mendapatkan penyetaraan setaraf S1 oleh
Yang ingin saya tanyakan, sebenarnya apa standar perhitungan untuk membedakan S1 dengan D3 untuk lulusan dari Malaysia?Saya ingin menyetarakan ijazah saya untuk setaraf S1. Karena arahan dari pihak Kedutaan melalui Atase Pendidikan disana, seharusnya taraf pendidikan yang kami sandang adalah SAMA dengan S1 di Indonesia.
Adakah penjelasan untuk ini? Terima Kasih atas perhatiannya.


Tanggapan:Thio
Medan( 13 Maret 2009, 14:52:52)
Embok Gia gimana ini? kalau tak salah pertanyaan ini sudah pernah dimunculkan pada tgl 5 Maret tapi tak dapat tanggapan dari Dikti.Sebenarnya yang menjadi standar untuk membedakan S1 dan D3 luar negeri sih gampang, termasuk akreditasi ( recognition of International )University tersebut, system perkuliahnnya, jumlah SKS yang diambil untuk gelar itu, program dan mata kuliah apa sesuai dengan gelar itu dsb. Aneh dalam praktek penyetaraan Dikti kita memberi kesan asal2an, sorry saya jadi buruk sangka apakah sebenarnya anak buah unqualify yang bekerja, kepala team yang profesional karena kesibukan hanya teken aja. Bayangkan berasal dari Uni dan Jurusan yang sama, sementara yang graduated with honours disetarakan dengan D3, yang biasa2 aja justru berezeki dapat disetarakan dengan S1. That means the world maybe crazy especially in our Ditjen Dikti Jakarta. Teringat saya nenekku pernah cerita dizaman beliau Ba itu artinya SARJANA MUDA yaitu D3 kita. Apakah Dikti punya pegawai setua nenekku? kok belum pensiun ya? nenekku sudah berusia 80 tahun dan giginya sudah ompong semua! kalau ya Dikti terima pegawai super tua, nenekku ingin lamar! berikan beliau kesempatan melamar donk! Bapak/Ibu Dikti yang murah hati, dari pada nenekku tiap hari kerjanya ngelamun ngeluh gak bisa lewat waktu, too much waktu nganggur tak baik buat kesehatan nenekku. Biarlah beliau sana bantu setarakan ijazah luar negeri, kan tak sulit, nampak Bachelor langsung cap D3 aja. Saran saya Gia sebaiknya sering muncul di kolom komentar ini, repeat2 same question juga no problem. Supaya salah satu staff yang tugasnya menyetarakan ijazah Gia able to keep your name in mind,kelak begitu nampak langsung disetarakan dengan S1, pepatah mengatakan gak kenal maka gak sayang, right? kalaupun ternyata kesialan disetarakan dengan D3, don’t be sad, you are not the first, itu sudah sering kejadian. Langsung aja ambil Master ke luar negeri,program Master overseas 1 1/2 thn sudah bisa selesai. Kalau terhadap Master Degree, Ditjen Dikti tak pernah stingy, asal University itu terakreditasi International, langsung diproses dan terbitlah SK yang setarakan Master anda dengan S2 sini.Solusi Ini yang sering dipakai Bachelor luar negeri yang kebetulan sial disetarakan dengan D3. Kebanyakan mereka pikir mau complain ke mana? habis tenaga berteriak mengatakan ini unfair pun tak mungkin terdengar Bapak Dirjen Dikti kita. Atau kalau gak mau lanjut ke Master, apply aja ke perusahaan swasta yang tak bermasalahkan Bachelor dengan S1, bagi swasta sama aja degree ini, cuma tak bisa ke Government Jobs termasuk BUMN/BUMD, karena mereka akan minta lampirkan SK Dikti tentang kesetaraan ijazah luar negeri. Antara S1 dan D3 pangkatnya sungguh jauh, kita ini sangat dirugikan kalau apply job ke Government field bila disetarakan dengan D3. Good luck to you, Wasalam dari Thio di Medan.


Tanggapan:Dinul
Medan( 13 Maret 2009, 20:48:21)
Walaikum Salam, Gia dan Thio di Medan, saya Dinul juga dari Medan. Tertarik untuk ikut diskusi topik yang kalian bicarakan. Sebenarnya standar yang paling gampang untuk membedakan degree Bachelor luar negeri itu setara D3 atau S1 Indonesia bisa dengan cara:
( 1 ) Berapa SKS yang diperoleh untuk mencapai degree itu? karena SKS (total credit) harus setara dengan sarjana sini, kalau tak salah 144 SKS. kalau kurang dari itu bisa aja disetarakan dengan D3.
( 2 ) Coba check ke salah satu Overseas University yang terakreditasi International, apakah Bachelor ini bisa terus ke Master program mereka gak? kalau no problem itu tandanya S1 karena D3 tak mungkin bisa lanjut ke Master.Bisa di check via email, fax, tel atau agen mereka di Medan seperti kalau Malaysia bisa check ke Global Total, Australia bisa check ke IDP Australia Centre. kalau mau sambung ke Universitas negeri yang tak ada agen di sini, via email aja paling 1 atau 2 hari sudah dapat jawaban.
Sebenarnya gak ada perbedaan yang signifikan antara program D3 dan S1, system, kurikulum dan content mata kuliah hampir sama. Lamanya kuliah tak bisa jadi patokan karena S1 bagi yang cepat bisa selesai dalam 3 tahun. Jadi di Indonesia umumnya dari jumlah SKS yang membedakan D3 dan S1. Ada juga sekolah program D3 nya lebih titik beratkan praktek dari teori contohnya akademi perawat, AMIK dll supaya bisa langsung kerja begitu tamat. Seperti yang Thio sebutkan, adalah sangat rugi dalam apply pekerjaan kalau status degree kita D3 terutama lamar ke kantor pemerintahan, pangkat D3 jauh lebih rendah dari S1 kalau tak salah D3 itu pangkat golongan 2B sedangkan S1 pangkat golongan 3A. Dari 2B ke 2C butuh 4 thn, 2C ke 2D 4 thn, 2D ke 3A 4thn, bayangkan kalau teman2 Gia yang berasal dari satu Uni dan satu jurusan, yang Honours dapat D3 sedangkan yang lebih bodoh disetarakan S1, seandainya sama2 diterima di kantor pemerintahan yang sama, wah, kasihan yang D3 ini, ketinggalan 12 tahan hanya karena human error. Gak tahu bagaimana cara kerja Dikti? saya juga korban penyetaraan, wisuda Oktober tahun lalu di Monash University, Melbourne. Jumlah SKS saya 144, sudah dapat Offer letter dari Monash U untuk intake awal bulan ini tapi sudah saya cancel karena faktur resesi global.Karena ingin jadi PNS bulan lalu saya ke Dikti untuk setarakan degree. Tak sangka dapat D3 pada hal segala persyaratan S1 terpenuhi ! Kasihan ibuku, karena beliau yang paling berat memikul selama kami( saya dan abangku )kuliah. Mungkin anda akan bertanya, kenapa gak kerja part-time untuk meringankan orang tua sewaktu kuliah di Melbourne (3 1/2 thn)? Gia dan Thio, itu cobaan buat kita yang beragama Islam, kerja part-time di sana rata2 di restaurant, memang upah sangat tinggi per hour bisa mencapai AUD 15-16, namun kita akan kehilangan waktu Zhuhur atau Ashar terutama Magrib.Kalau sudah menetap berbulan bahkan bertahun di sana tentu bukan musafir tak mungkin kita bisa jamakkan shalat kita, yang bisa rutin laksanakan paling Subuh dan Isa. Itupun berbahaya,karena kalau kerja malam pulang dalam kondisi terlampau capek bisa kelewatan Subuh. Antara berpenghasilan dan Ibadah, orang tuaku pilih lebih baik mereka banting tulang di Medan untuk biayai uang sekolah kami dari pada kami kerja lantas rusak ibadah.Sekarang mereka sudah tua, namun mereka masih ingin saya lanjut ke jenjang Master, kuliah dalam negeri sudah terbentur D3 Dikti ini, mudah2an Allah SWT memberi petunjuk kearah mana saya harus melangkah.amin. Wassalam dari Dinul Medan.


Tanggapan:Ikhsan
Melbourne( 14 Maret 2009, 06:35:14)
Dear Admin Ditjen Dikti,
Hope DITJEN DIKTI INDONESIA will take note and reply to Dinul degree’s case, because his case is genuine from a WELL-KNOWN and WORLD RECOGNISED UNIVERSITY.Further more he only plead for FAIRNESS from his “DEGREE” and nothing more. Please kindly pass this message to Prof.DR.Fasli Jalal, Dirjen Dikti Diknas RI.
Thanks and best regards from Ikhsan, one of Monash University alumni.


Tanggapan:Ikatan Mahasiswa Muslim Monash Melbourne
Melbourne, Victoria( 15 Maret 2009, 10:54:36)
Assalam Mualaikum W.W.
Yang terhormat,
Bapak Prof. Bambang Sudibyo/Menteri Pendidikan Nasional RI
Bapak Prof.DR. Fasli Jalal/Dirjen Dikti Diknas RI
Bapak Direktur Akademik Urusan Luar Negeri
Bapak Kepala Seksi Penilaian Ijazah luar negeri
Bapak/Ibu Admin
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Ditjen Dikti
Di Senayan Jakarta,
Dengan hormat,
Kami, beberapa Mahasiswa Indonesia yang pada saat ini sedang mengikuti kuliah program Bachelor of Arts di Monash University, Melbourne, Victoria, Australia ingin memberikan sedikit tanggapan terhadap kasus penyetaraan degree Bachelor Of Arts ( Politics, Communication ) senior kami Dinul Fiktri Anchan yang disetarakan dengan D3 ( Sk Dikti no. 0494 tgl 27-02-2009 ):
Di Monash College tak ada Diploma of Arts (setara D3) yang berprogram Political Science/International relation. Program ini hanya terdapat di Monash University, Melbourne. Bachelornya dengan SKS sebanyak 144 equal dengan S1 negara kita. Berhubung kami sekarang sedang di jurusan yang sama seperti sdr Dinul dengan keyakinan bahwa apa yang sedang kami ikuti adalah program S1 maka melalui kolom tanggapan ini kami memohon dengan segala kerendahan hati agar diberi penjelasan :
(l) Apa yang menjadi landasan penyetaraan ijazah luar negeri yang menentukan degree itu D3 atu S1? Sayang Sdr Doli A Harahap dari Medan tidak sebutkan nama Universitynya di Malaysia.Kami sangat ingin penjelasan mengapa temannya yang Bachelor of Information System (Hons) yang diambil sesuai dengan arahan atase Kedutaan di Malaysia hanya disetarakan D3?
(2) Mengapa senior kami Dinul F Anchan yang sudah selesai program Bachelor of Arts ( double major in Politics, Communication ) dengan jumlah SKS sebanyak 144 tanpa pernah fail, sudah dapat offer letter untuk melanjutkan ke jenjang Master of Arts hanya disetarakan dengan D3 di Indonesia kita? hal ini sangat penting kami ketahui karena menyangkut masa depan kami. Dari penjelasan Bapak2 bisa kami menentukan sikap ke arah mana kami akan bergerak ke depan.
Demikian permohonan kami, mohon kesudian Bapak2 Dikti Diknas RI untuk memberi tanggapan.Seandainya ada kesalahan atau kekhilafan baik kata maupun sikap dalam membuat surat ini, kami mohon maaf sebesar-besarnya.
Wassalam dari: Ikatan Mahasiswa Muslim Monash Melbourne.


Tanggapan:Lisa
Malaysia( 15 Maret 2009, 11:18:55)
I am in USM Malaysia, feel most sad and disappointed to learn our Education Ministry treats Monash University degrees as inferior to local Indonesia Universities degrees. Feel funny this is peculiar to happen in our Education world. For long time, until recently, Malaysia local Universities view foreign degrees from UK, Australia, NZ, Ireland US etc as inferior to local universities. Never imagined our Country hold same view too.Lisa,Malaysia.

Disitu mas Dinul mengatakan ada peraturan tidak tertulis (Atau tertulis, kalau ada saya minta peraturannya) yang mengatakan untuk membedakan hanyalah jumlah Unit/Credit Hours/SKS dari program yang pendidikan. Untuk bisa disetarakan sebagai S1 “katanya” harus mencapai SKS minimal 144. Saya hanya merasa itu peraturan aneh kalau memang benar-benar tertulis, tetapi kalaupun memang benar adanya tertulis, saya ikhlas ijazah saya yang hanya 114 SKS dengan gelar Bachelor of Information Technology with Honors itu hanya dianggap D3. Saya hanya ingin bertanya mengenai peraturan dan aturan main yang jelas dan memang sudah diatur oleh Undang-Undang.

Dalam hal ini, biasanya orang-orang akan berkata, “sudah, lanjutkan saja lagi kuliah S2 di negara tempat kamu S1 tersebut, selesai perkara, toh semua gelas Master diakui di Indonesia”. Oke, masuk akal. Tapi tidak untuk orang yang memang bercita-cita ingin menjadi PNS, atau ingin melanjutkan program S2 di Univeristas di Indonesia, atau juga untuk orang yang kurang mampu tamatan  S1 di luar negeri yang didapatkan melalui program beasiswa dan tidak sanggup untuk melanjutkan S2, apakah beliau ini juga harus menanggung gelar D3????

Bagaiamana pihak-pihak pendidikan Indonesia menjawabnya?



Post to Twitter

Tags: Australia, Bachelor, Beasiswa, D3, Dikti, Malaysia, Monash, Penyetaraan Ijazah, PNS, S1, Universiti Utara Malaysia
Comment

Tulisan Pak/Mas/Om Romi menginspirasikanku untuk..

Filed Under: Dunia Kerja, Kritik Sosial, umum by admin — 2 Comments
March 13, 2009

Tadi dikasi tau temen, Aji Atturmudzi, ada tulisan bagus di blog Romi Satrio Wahono mengenai PNS. Sudah lama juga saya tidak membaca tulisan-tulisan Pak Romi. Isi tulisan beliau mengenai PNS mengisnpirasikan saya untuk berani juga mengutarakan ini, walau mungkin saya belum pernah berkecimpung langsung sebagai Pegawai Negeri Sipil.

Untuk anda yang penasaran dan belum tahu siapa Pak Romi coba baca artikel beliau berikut. Bagi yang tahu siapa beliau dan pengikut setia blog beliau pasti atau kemungkinan sudah membaca artikel tersebut.

Apa yang membuat saya terisnpirasi adalah, untuk membuka pemikiran orang tua khususnya dan teman-teman lain yang begitu tergila-gila untuk mendapatkan satu tempat di institusi manapun sebagai PNS. Kemungkinan poin-poin yang ditulis oleh Pak Romi bisa dijadikan patokan apakah ANAK ANDA atau ANDA SENDIRI sesuai atau tidak untuk menjadi seorang PNS. Atau bahkan mungkin poin-poin tersebut bisa dijadikan standar umum? hehehe . . bagaimana Pak Romi?

Ada satu yang ingin saya tanyakan kepada Pak Romi, pernah “melakukan” riset tidak, apakah poin-poin tersebut berlaku juga dan bisa juga dijadikan “standar” jika ingin menjadi pegwai di BUMN?

Mampir ke blog ini dong Pak Romi.



Post to Twitter

Tags: BUMN, orang tua, pekerjaan, PNS, Romi Satrio Wahono, standar
Comment
Page 1 of 3123»
  • Yang Kecarian

  • Yang Layak Diikutin

    • Aditya Awank
    • Andika Perdana Putera
    • Chicken Strip
    • Dolly Aswin
    • Hun Hun
    • Ibu Wyd
    • Putri Jump
  • Yang Lalu

  • Jenis Tulisan

    • Berbagi Pengalaman (8)
      • Dunia Kerja (8)
    • Hiburan (4)
      • Movies (1)
      • Musics (3)
    • Ilmu (7)
    • Komputer dan Informasi Teknologi (14)
      • internet (8)
    • Kritik Sosial (14)
    • Olahraga (2)
      • Sepakbola (2)
    • OpenCV (1)
    • Pemrograman (9)
      • Java (1)
      • MySQL (2)
    • umum (49)
  • Aneka Ragam

  • Mari Bersilaturahmi

  • Yang Narsis dan Promosi

    Mangkuk Merah Hosting
  • Komen Terbaru

    • me on Penyetaraan Ijazah Luar Negeri oleh DIKTI terkesan aneh
    • Karsen on Hardware Interrupts Memaksa CPU Kerja Rodi (Using 100% CPU)
    • admin on Hardware Interrupts Memaksa CPU Kerja Rodi (Using 100% CPU)
    • Wahyu on Hardware Interrupts Memaksa CPU Kerja Rodi (Using 100% CPU)
    • admin on Sulap Notebook Tua Tampak Baru
  • Yang Populer

    Abon anggota DPR ATI driver Australia babi Bachelor bahasa indonesia Bakat Bali Balicamp Bandung Beasiswa bebek bibtex blogger Bosen brad pitt brice willis BUMN Checkbox chrome crash Cristano Ronaldo D3 Daftar Filem Dark Knight denzel washingthon detikcom Dikti domain emansipasi wanita EOS450D ES KRIM RIA fglrx Filem flash gaji dosen google halal hosting HTML JAVA Komputer dan Informasi Teknologi PNS wordpress
  • Yang Lupa Waktu

    February 2012
    M T W T F S S
    « Nov    
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    272829  
Powered by WordPress and Mangkuk Merah Hosting | Theme: Motion | Customized by
[ Back to top ]