Satu lagi keanehan yang aku temukan di Surabaya. Bebek goreng tali plastik. Ya benar, bebeknya digoreng masih terikat dengan tali plastik. Tadinya menahan lapar dari kantor berbuka puasa hanya dengan air putih, bermaksud untuk mencari makanan dekat dengan kos-kosan saja.

Sampai di kos-kosan, meletakkan ransel, dan langsung mencari warung-warung pinggir jalan. Melihat satu warung yang ramai, dan kebetulan memang warung tersebut belum perah saya “icip-icip” menu makanannya. Saya memesan 2 potong bebek goreng, ya 2 potong karena memang sudah sangat terasa lapar. Barulah keanehan saya temukan, ini bebek kok sepertinya ada anehnya. Dilihat-lihat ternyata ada tali plastik, atau lebih dikenal dengan tali rapia, mengikat potongan si bebek.

Rasa dalam hati mau marah, saya pun menemui sang penjual.
“MAS, INI KOQ MASIH ADA TALINYA?? APA2AN INI???!!!”
“Lhoo, bukannya mas yang pilih yg diiket??piye Toh??”

what the bebek!!!

Ternyata mereka memang menjual bebek yang masih diikat seperti itu. Gila, aneh!! Apa mereka ga tau ya kalu tali itu digoreng sangat-sangat berbahaya. Wah, bagaimana sih ini pendidikan kesehatan masyarakat kita? Ini sama persis sama berita yang pernah ditampilkan investigasi TransTV mengenai sang penjual makanan yang menggoreng kerupuk bersama plastik pembungkusnya sekalian. Gila. Lagi-lagi gila!!

Harusnya yang begini-begini merupakan tanggung jawab sapa ya? Apa pihak pemerintah setempat harus menginspeksi tempat-tempat makan yang beginian ya? Yang tambah membuat saya bingung dan aneh, ternyata para pembeli memang tau kalau itu memang dijual pakai tali seperti itu. Terdengar suara embeli lainnya, “Eh, kamu mau yang pakai tali atau  enggak dek? Yang pakai tali aja mas…”

Waduuuh…Gawat…

Yang membuat saya lebih khawatir, gara-gara tali itu, saya jadi berpikir. Ini bebek HALAL atau enggak ya?
Ternyata mencari makanan di Surabaya memang susah. Saya ingin kembali ke Medan atau Jakarta saja rasanya.



Post to Twitter